Skip to main content

Posts

[gallery] I have this list containing Places to Visit Before I Die. When I was about to tick Maldives soon after leaving the island, I noticed that I reached my target 1 year earlier than the specified date. And then I remember, it is not the first time for me to get my goals fulfilled earlier than the target date. 1. In my younger age, I dreamed of getting married before 26, and have a baby at 27. In reality, I got married at 25, and have a baby at 26. 2. I also dreamed of having our own house before 30. In reality, we bought our first house at the age of 26, just 2 month after I gave birth to our firstborn. 3. The other dream was to have an apartment unit before my children entered primary school. We almost missed this one because our firstborn was already on her 2nd grade, but.. our lastborn was still on kindergarten when we bought the apartment. Plus, we got not only 1, but 2 units of different apartments at the same time. PTL! We have our family dream board in front of our bedroom...
[gallery] Sunday, 24 May 2015 Our last day in Maldives was spent in Hulhumale, a man-made island connected by land directly to Male Airport. I chose to stay here rather than in Male so that we don’t need to take another boat to Male. We walked around the neighborhood to see local living. Since it’s weekend, we saw so many families taking their kids playing on the beach or park. The city is so small that it took less than 15 minutes to get around by bus :)) We spent a night in Beach Sunrise Inn, a comfortable budget hotel with a very nice beach view right from our room balcony and beautiful sunrise in the morning. I enjoyed my morning by laying on the bed seeing It also has sharing kitchen and a living room, so if you book 2 rooms you can have the whole kitchen and living room altogether. The staffs are friendly and helpful, they make sure we got everything we need. We booked through Airbnb host Affyf, who is very responsive and informative. I like his super fast response eve...
[gallery] Tepat tiga tahun lalu saya pernah menulis Marriage Tips , tahun ini rasanya saya punya satu poin penting yang bisa saya tambahkan: Jaga kesehatan pernikahan seperti menjaga kesehatan badan. Apa artinya? Pernikahan, sama seperti badan, tidak selamanya fit. Pasti ada masanya kurang sehat dan jatuh sakit. Namun ketika kita kurang sehat, apakah berarti kita langsung mati? Nggak kan. Jadi, pandang masalah dalam pernikahan seperti kita memandang masalah kesehatan badan. Untuk mempermudah, bikin aja parameter sesuai indikasinya. Misalnya.. Bete2an karena hal remeh temeh = pilek. Orang pilek obatnya apa sih? Cukup istirahat aja kan. Jangan lebay dikasih infus. Nah sama, kalo lagi bete2an, give space masing2 aja dulu. Gak usah lebay langsung minta cerai :)) Konflik karena suatu masalah = DBD. Obatnya? Musti diopname ya, jangan didiemin aja. Kalo gak disembuhin bisa mewabah ke anggota keluarga lain bahkan tetangga. Nah sama, kalo lagi ada konflik, harus dibahas tuh. Jangan dicuekin dan...
[gallery] Ketika orang datang kepada Anda untuk berkeluh kesah, apa yang biasanya Anda lakukan? Kesalahan umum yang paling sering terjadi adalah, kita lebih sering mendengarkan untuk menanggapi, bukan memahami. Memahami kegundahan hatinya berarti menyadari bahwa kenyamananlah yang paling dibutuhkannya, bukan nasehat. Kenyamanan seperti mendengarkan tanpa menyela perkataannya, memandang wajahnya, menggenggam tangannya, atau memeluknya. Pada saat2 seperti itu, hal terburuk yang dapat Anda lakukan adalah memberinya nasihat, KECUALI ia secara jelas meminta nasihat kepada Anda. Mengapa? Karena bukan itu yang dibutuhkannya! Ingat, orang curhat BUKAN BERARTI ia meminta nasihat. Ia hanya minta didengarkan, dipahami, dimengerti. Terlebih jika nasihat yang diberikan berupa komentar yang dapat menyakiti hatinya. Misalnya, mengomentari sikap seseorang yang tidak bisa dekat dengan ibunya, padahal dirinya sendiri tidak bisa dekat dengan ayahnya. Jika itu yang masih Anda lakukan, mungkin Anda masih p...

Sadar Alergi

Minggu lalu saya jenguk adik bayi keponakan baru yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya hingga 17 tahun. Yes, setelah 17 tahun menikah sepupu kami baru dikaruniai anak. Meski usianya lebih banyak dari saya, namun sebagai ibu baru ia tak ragu bertanya kepada saya tentang pengalaman memiliki bayi mulai dari soal ASI hingga alergi. Saya ceritakan, kedua anak saya termasuk rentan alergi. Si kakak, sejak kecil sudah mengalami dermatitis atopik, yang ditandai dengan alergi pada pipi dan (maaf) pantat. Dia tidak bisa kena tumpahan air susu di pipinya, tak lama kemudian pasti merah-merah. Dan ruam pada pantatnya seringkali disebabkan oleh popok yang tidak diganti dalam jangka waktu 2-3 jam, atau alergi pada bahan diapers merk tertentu. Efeknya bagi kami orangtuanya tentu di biaya ekstra beli diapers dengan harga lebih mahal :D Sedangkan si adik lebih parah lagi, pada 1 tahun pertama dia tidak bisa menerima asupan susu selain ASI. Saking parah alerginya, ia pernah muntah-muntah hingga harus di...
[gallery] Dalam ilmu psikologi, ada yang namanya distorsi kognitif, yaitu berpikiran secara berlebihan dan tidak rasional. Ada 12 macam definisi distorsi kognitif, salah satunya adalah loncatan kesimpulan: membuat penafsiran negatif, walaupun tidak ada fakta yang jelas mendukung kesimpulan tersebut. Misalnya ketika anak mengatakan “Saya tidak mau A karena B”, namun orang lain BERASUMSI bahwa “Saya tidak mau A karena ORANGTUA SAYA MENGAJARKAN B”. Padahal orangtuanya tidak pernah mengajarkan demikian dan anaknya juga tidak pernah berkata “orangtua saya yang mengajarkan demikian”. Sehari-hari, tanpa sadar kita sering sekali berasumsi dan mengambil kesimpulan sendiri. Hati-hati, karena asumsi sangat berpotensi menyakiti hati diri sendiri maupun orang lain. Apalagi jika berasumsi tentang orang terdekat karena MERASA bahwa kita telah lama mengenalnya. So next time we are attempted to make our own assumption, let’s try this crazy method called: asking....

Pilihan

Pagi ini ada dua kejadian yang membuat saya berpikir. Pertama, saya ditelpon oleh ART yang sudah sebulan lebih pulang kampung, dia menanyakan kapan sebaiknya balik lagi. Saat ini sudah ada penggantinya meski pulang hari, tapi saya merasa sudah cukup nyaman dan dan terbantu. Kemarin juga ada orang lain lagi yang menawarkan diri untuk bekerja di sini. Kedua, saya dihubungi oleh giant company yang sangat serius mengajak bekerjasama. Sebelumnya ada giant company yang notabene adalah kompetitornya juga serius ingin bekerjasama. Dulu ketika telco besar mensupport komunitas kami, telco besar lainnya menyatakan “antri”. Sebelumnya, ketika mobile company besar mensponsori, mobile company raksasa lainnya mencoba “masuk” dengan berbagai cara. Saya jadi ingat pada saat kemarin saya butuh waktu lama untuk memilih baju mana yang hendak dipakai. Karena begitu banyaknya pilihan, selama kurang lebih 30 menit saya habiskan untuk bergonta ganti pakaian sebelum akhirnya memutuskan satu rok cantik baru ya...

Be Humble

Pagi ini saat melakukan ritual Lectio Divina (membaca firman Tuhan secara reflektif), saya terpaku pada ayat Efesus 4:2 yang berbunyi: “Always be humble and gentle. Be patient with each other, making allowance for each other’s faults because of your love.” Ayat itu membuat saya merefleksikan diri, apakah saya sudah rendah hati, lemah lembut, dan sabar? Rasanya belum. Saya kadangkala tidak mau mengakui kekurangan saya dan menutupi kelemahan saya. Saya masih sering berbicara dengan nada meninggi dan mudah panik. Saya masih kekurangan stok kesabaran terutama ketika orang-orang terdekat melakukan kesalahan atau melanggar aturan. Dan masih banyak lagi. Intinya, dengan segala keterbatasan sebagai manusia, sepertinya saya masih jauh dari itu. Sesi saat teduh di Greenie Benzie itu saya lanjutkan dengan membaca buku Emotionally Healthy Spirituality yang ditulis Peter Scazzero . Lalu saya terpaku pada kalimat yang ada di halaman 178:
[gallery] Kapan itu ajak si anak kicil kriwil ini naik angkutan umum berdua aja. Di jalan dia tidur, pas sampai langsung bangun. Begitu turun dari angkot, dia tanya: “Mom, how does the driver know where we’re going?” “Because I told him to stop.” “But how does he know which way to go?” Oh iya ya dia kan belum diajarin konsep rute atau trayek angkutan umum :)) Kemudian pas turun dari bus trans jakarta, mommy bantu dia lompat. “Mom, I like traveling with you” “Oh, good to know. Why?” “Because you’re kind, helping me to jump. It’s like an adventure, so fun!” “Really? So you’re happy?” “Very much!” Ooohhh… *uyel2* #lifewithkids #supereasykid
[gallery] Celoteh si anak kicil kriwil pagi tadi. “Mom, I think tooth fairy is not real.” “Why?” “Because my wish is not coming true.” “What’s your wish?” “I wish I have my own bedroom with a bunk bed.” “Oh..” “Why Michelle’s wish came true but mine is not?” “I think because tooth fairy couldn’t lift heavy things such as bunk bed. Maybe you should change your wish to a lighter one.” “Like Lego?” “Hmm, yeah” “But Lego is expensive.” (Pause a while) “Oh, I know! Lego from Hoka Hoka Bento is not expensive!” *nyengir lebar* Oooooohhhhh *uyel2*
[gallery] Apa yang ditulis Pak Julianto Simanjuntak ini senada dengan yang dikatakan mama mertuaku saat kami ngobrol selama 2 jam di rumahku minggu lalu: anak bukan investasi. Artinya, didik dan besarkan anak tanpa pamrih. Beliau katakan, kewajibannya sebagai orangtua adalah membesarkan dan memberikan pendidikan terbaik hingga anak2nya menikah. Setelah itu anak silakan mencari rejekinya sendiri untuk keluarga barunya. Ajaran itu telah ditanamkan oleh ibundanya (eyang putri) sejak dulu. Eyang putri hingga tutup usia di 88 tahun masih aktif dan bisa menafkahi dirinya sendiri. “Selama mau bergerak (bekerja) pasti bisa makan kok”, itu petuahnya. Mamaku juga pernah bilang tidak mau menyusahkan anak, sebab itu mama papa berinvestasi untuk masa tuanya melalui sewa properti (rumah kontrakan). Itu juga dilakukan mama mertuaku. Suamiku Natali Ardianto selalu mengatakan: “Kita membalas jasa orangtua itu ke anak2 kita (membesarkan & mendidik sebaik2nya), karena kalau ke orangtua nggak akan per...
[gallery] Kenalkan, ini kawan kami Pak Rusen Magayang yang berasal dari suku Kimyal, Papua, yang tinggal di lereng pegunungan Jayawijaya. Perjuangannya untuk mengikuti Kuliah Konseling bersama kami di Jakarta sangat luar biasa. Bayangkan, ia harus berjalan kaki selama 2 HARI dari tempat tinggalnya di pelosok untuk mencapai kabupaten yang berjarak 60-80km, melewati hutan, lembah, sungai dan pegunungan, menembus hujan dan teriknya matahari. Semua ditempuh tanpa menggunakan alas kaki. Ditemani oleh sang istri. Setelah mencapai kabupaten, mereka menginap di sana sebelum meneruskan perjalanan panjang menuju Jakarta dengan menumpang pesawat sebanyak 4 kali! Ya, 4 kali: 2 pesawat di Papua, 1 pesawat transit ke Makassar, 1 lagi pesawat tujuan Jakarta. Berapa biayanya? Mencapai 10 juta. Berapa lamanya? Mencapai 3 minggu. Tak heran ia terpaksa terlambat 1 semester karena beberapa mata kuliah tidak dapat dihadiri dikarenakan kendala2 itu tadi. (Tapi saya senang karena itu berarti ia akan sering i...
[gallery] Simple act of kindness this morning: giving my queue number of SPT submission to a queue woman because I don’t need it anymore after registering e-filing pin. From 753 jump to 533, not bad eh? The woman was more than happy to receive it. So today I witness how a simple act of kindness could generate one’s happiness.

Back To School; Nuniek Tirta Ardianto – “Sekolah untuk Personal Growth Saya”

Back To School; Nuniek Tirta Ardianto – “Sekolah untuk Personal Growth Saya” Pernah terpikir untuk back to school saat Anda sudah berkeluarga? Anda tidak sendiri, Nuniek Tirta Ardianto semangat menyelesaikan S2-nya demi invetasi diri. Membaca hasil wawancara saya oleh MommiesDaily di atas, rasanya seperti hasil obrolan dengan sahabat yang disebarkan ke masyarakat luas. Mungkin ada yang bertanya-tanya, nggak malu mengungkap cerita getir masa lalu ke banyak orang? 
[gallery] Terminal Illness Caregiver Counseling  Akhir bulan lalu, saya ditemani ibu mertua melakukan pelawatan sekaligus konseling pendamping pasien  terminal illness. Kami menjenguk Bapak D di daerah Jakarta Timur dan disambut dengan hangat oleh istrinya yang adalah kawan dari ibu mertua saya. Beliau memberitahu suaminya akan kedatangan kami, meskipun suaminya tidak bisa merespon. “Pak, ada Bu S dan mantunya nih, jengukBapak”, ujarnya lembut dengan tersenyum. Kami mengobrol dengan Bu D selama 1 jam, sambil sesekali terinterupsi tatkala suaminya membutuhkanpenanganan.
[gallery] Sharing as a multirole woman for Evolving Workforce topic in @atamerica today with other panelists from Dell, Intel, TNS, and Maxima Talenta Consulting, in front of technology media.
[gallery] Perjuangan hari ini adalah mencari buku referensi mata kuliah Spiritual Formation. Dari toko buku Gramedia Bekasi dan Books & Beyond Karawaci, hanya dapat 1 dari 3 buku yang dicari. Tapi malah berujung dengan membeli buku2 bagus lainnya untuk diri sendiri dan anak :) Sekali lagi merasa sangat terberkati dengan mengikuti kuliah hari ini, banyak dapat ilmu dan pencerahan. Pak Dedy sebagai dosen lulusan USA sangat berkompeten mengajar ini dengan gaya yang jauh dari membosankan. Dalam kelasnya, beliau mampu membuat kami terisak-isak dan terbahak-bahak :)) Berkat pencerahan ini pula saya menetapkan tema pribadi tahun 2015 ini adalah “Spiritual Journey”. Setelah tahun 2014 lalu menetapkan tema “Finding Peace of Mind Journey” dan berhasil menemukan jawabannya :))) Sunday 08 March 2015 Nuniek Tirta Ardianto

iCIO Awards 2015 & Media Interview – Google+

iCIO Awards 2015 & Media Interview – Google+ 05 March 2015 • 23 moments - Click the link above to see full photo album  Hubby was awarded as The Most Intelligent CIO 2015 by iCIO Awards! Myself interviewed by MommiesDaily and high tea with Hanzky   Myself interviewed and photographed by Wanita Indonesia Hubby interviewed by Bloomberg Indonesia What a wonderful day, praise the Lord!

Karakteristik Perkawinan yang Berhasil (Bagian 3 dari 3)

Ini adalah bagian terakhir setelah tulisan pertama dan kedua .  Tulisan asli dalam bahasa Inggris, saya menerjemahkan bebas ke dalam bahasa Indonesia. 12 Karakteristik Pernikahan yang Berhasil: 9.      Unselfishness (TidakMementingkan Diri Sendiri) Terlalu mementingkan diri sendiri dalam pernikahan mengurangi tanggung jawab masing-masing pasangan untuk keberhasilan hubungan. Keberhasilan perkawinan berdasarkan pada semangat saling menolong, dengan cara memenuhi kebutuhan pasangannya sebaik memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.

Karakteristik Perkawinan yang Berhasil (Bagian 2 dari 3)

Ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya .  12 Karakteristik Pernikahan yang Berhasil 5.      Commitment (Komitmen) Pernikahanyang berhasil membutuhkan motivasi tingkat tinggi: keinginan untuk mempertahankan perkawinan dan kemauan untuk meluangkan waktu dan usaha untuk memastikan semuanya itu berjalan dengan baik. Komitmen, dibandingkan faktor kepuasan atau investasi, merupakan prediktor terkuat sebuah persistensi hubungan. Komitmen dianggap memiliki 3 komponen: niat untuk bertahan, kelekatan psikologis, dan orientasi kognitif untuk berada dalam hubungan dalam jangka panjang. Salah satu pertanyaan penting adalah, kepada siapa dan untuk apa komitmen itu? Komitmen melibatkan tiga bagian: