Skip to main content

What Does Excellence Really Look Like on a Lazy Sunday?

A Sunday reflection on how true excellence isn’t perfection. It’s grace, gratitude, and presence, even in messy, ordinary, and slightly chaotic days. 

Excellence is not about being the best, but about being your best, even when no one’s watching. ~ Nuniek Tirta 

This morning, I woke up early. Sounds productive, right? Except… I somehow ended up meditating in the toilet for what felt like a spiritual retreat. You know those moments when your thoughts flow, ideas come alive, and you lose track of time? Unfortunately, on a cold toilet seat. When I finally stepped out, it was already late morning. Oops. Too much info? Probably. But hey, you’re my friend, you can handle the truth.

Anyway, today was supposed to be my daughters’ turn to cook. They promised to make Swedish meatballs from our last IKEA trip. But since everyone woke up late (thanks to our collective love for Sunday laziness), and my stomach started composing a sad ballad of hunger, I ended up cooking brunch myself.

Well, “cooking” might be too generous a word. Let’s say I heated up last night’s warteg dishes, added some protein therapy in the form of boiled eggs and tempe straight from the air fryer, and called it a balanced meal. The kitchen smelled like triumph and compromise. After that, it was my husband and kids’ turn to clean up. Fair trade, right?

Once my belly was full, I suddenly felt this overwhelming wave of sleepiness. You know that type of nap that feels like you’re being hugged by clouds? That was me. I fell asleep so deeply that when my daughter gently shook me awake at 1 PM, I felt like I’d just returned from another dimension. Time to get ready for church! The fourth session of Sunday service.

View from C4 seat

The sermon was about excellence. I noted several quotes from Pastor Johannes Thelee:

Excellence is not perfection.

That simple line felt like a soft slap on the face; the good kind. Because I realized how often I confuse the two. Perfection is heavy. It demands, judges, and exhausts. But excellence? Excellence inspires. It’s about reflecting the greatness of God within us, not performing to please others.

We don’t perform excellence. We reflect excellence.

Sometimes, we chase excellence like it’s a trophy to win. The perfect parenting, the spotless home, the flawlessly executed plan. But in truth, excellence is not a performance. It’s a reflection. It flows naturally when our hearts are rooted in Someone greater.

A man on authority is actually a man under authority.

That one gave me chills too. It reminded me that real strength doesn’t come from control or dominance, but from surrender... from being grounded in God’s authority, not our own. The kind of excellence that shines through peace, patience, and integrity. Not through striving or showing off.

I started thinking about how this looks in everyday life. Like, if I really live this out, it’s not about having a perfect Sunday routine where everyone wakes up on time, cooks together harmoniously, and eats photogenic brunch in matching pajamas. It’s about how we respond when none of that happens. When things are messy, delayed, or ordinary... and still choose to show grace, gratitude, and love.

That’s excellence too.

It’s in how we handle inconvenience without snapping.
It’s in how we clean up our own mess, literal or emotional.
It’s in how we stay kind even when the day goes off-script.

Wow, turned out it got me thinking a lot. So many to improve within. #selfnote

After church, we went to Aeon supermarket for an early dinner. Don’t ask me why. Probably one of those “why not?” decisions that sound fun in theory. Actually, the plan started innocent enough: my youngest need to buy Citroen. But even paying for that one tiny thing took forever; the queue was ridiculous. Then somehow, we decided to eat there too. They have a food court inside, and we thought it’d be a cool new experience. Spoiler alert: it wasn’t. 

First, everything took forever. Long lines everywhere. By the time we got our food, I had already mentally eaten it twice. Second, the waiting killed the vibe. Family dinners are supposed to be about connection, but when everyone’s scattered in different queues, the only conversation happening is through WhatsApp call: “Where are you?” “Queuing to pay.” “Could you just pick something for me too?” Third, it wasn’t even cheaper than a restaurant. We spent around 200k for four people (NOT including drink), which is basically what we’d pay at a cozy spot with actual chairs and ambiance. Honestly, for that price, we could’ve had lunch AND dinner at Mie Gacoan for the whole family, and left happier.

So yeah, lesson learned. Supermarkets are for groceries, not gastronomy. Whoever thought food courts inside supermarkets were a good idea probably never had to manage a hangry family.

But here’s the funny thing: even in that underwhelming dinner, I saw a glimpse of the sermon in real life. Excellence isn’t about perfect experiences or efficient outcomes. It’s about how we carry ourselves through imperfect ones.

We just laughed about the chaos later. The long lines, the skinny chicken, the “never again” verdict. And somehow, that made the day feel complete. Not perfect, but full.

Maybe that’s the quiet beauty of excellence. It’s in the way we reflect God’s grace in ordinary, slightly ridiculous, human days. In how we turn small frustrations into stories. In how we choose to still see goodness, even in an overpriced supermarket dinner.

Because when you think about it, excellence isn’t always about doing great things. Sometimes, it’s just about doing small things with great love, and a sense of humor.

And that’s how my lazy, chaotic, slightly holy Sunday turned into a reminder that God’s excellence doesn’t demand performance. It just asks for presence.

Excellence doesn’t always look glorious. Sometimes it looks like reheated warteg food, shared laughter, and a heart that chooses to stay grateful anyway.

Sunday, 12 October 2025
Nuniek Tirta Sari

Comments

Popular posts from this blog

Saya Nuniek Tirta, bukan ((hanya)) seorang Istri Direktur

Catatan penting: untuk mencapai pemahaman penuh, mohon klik dan baca setiap tautan.  Awalnya adalah pertanyaan . Membuahkan suatu jawaban .  Diposting di akun pribadi, seperti yang biasa saya lakukan sejak hampir 15 tahun lalu , bahkan sebelum Mark Zuckerberg membuat Facebook.  Jawaban yang juga autopost ke facebook itu menjadi viral, ketika direshare oleh lebih dari 20ribu orang, dengan emoticon lebih dari 38ribu, dan mengundang 700++ komentar. Kemudian menjalar liar, ketika portal-portal media online mengcopas ditambah clickbaits.  Tidak ada media yang mewawancara saya terlebih dahulu ke saya kecuali satu media yang menghasilkan tulisan berkelas dengan data komprehensif ini .   Well, ada juga yang sempat email ke saya untuk meminta wawancara, tapi belum sempat saya jawab, sudah menurunkan berita duluan selang sejam setelah saya posting foto di bustrans Jakarta .  Selebihnya... Tidak ada yang konfirmasi terlebih d...

Industri Fashion dan Harga Jujur

Saat tulisan viral “Istri Direktur” sedang hangat2nya, di antara ratusan pesan yang masuk, saya menerima sebuah pesan pribadi dari follower Instagram . Tulisan panjang dalam Bahasa Inggris itu intinya mengatakan, bahwa dia juga seorang yang hemat namun tidak akan mau beli baju seharga 50ribu karena itu berarti tidak menghargai pekerja garmen lokal. Dia menyarankan saya meluangkan waktu untuk survey berapa upah para pekerja konveksi rumahan. Industri Fashion Kira2 begini deh ekspresi saya saat membaca pesan dan sarannya. Poker face. Ehehehe. Saya katakan terima kasih atas concernnya. Tapi tidak perlu mengajari saya berapa upah pekerja garmen lokal, sebab mama saya pernah menjadi bagian dari mereka. Ya, waktu saya kecil, mama saya adalah penjahit konveksi rumahan, sampai sakit maag karena lupa makan demi mengejar target borongan. Upahnya memang kecil, tapi cukuplah untuk membantu perekonomian keluarga. Tahun 2008 hingga 2010 saya juga sempat terjun ke industri fas...

Perawatan wajah dan cerita masa muda

Andaikata blog dan social media saya punya semacam FAQ (Frequently Asked Question, alias pertanyaan yang paling sering ditanyakan), sudah pasti di urutan pertama akan bertengger pertanyaan: "Pakai produk perawatan wajah apa?"  Banyaaaakkk banget follower instagram / facebook / twitter saya yang nanya gitu, dan minta saya mengulasnya. Saya bilang sabar, tunggu tanggal mainnya. Tapi sebelum saya jawab pertanyaan itu, saya mau mengenang masa muda dulu ah..  Jadi begini cucuku... Waktu pertama kali ngeblog 15 tahun lalu , usia saya masih 21 (yak silakan dihitung usia saya sekarang berapa, pinterrrr). Jadi jangan heran kalo gaya bahasanya masih 4I_aY 4b3zzz.. (eh ga separah itu juga sih, hehe). Tapi ekspresi nulisku di masa-masa itu masih pure banget, nyaris tanpa filter. Jadi kalo dibaca lagi sampai sekarang pun masih berasa seru sendiri. Kayak lagi nonton film dokumenter pribadi. Kadang bikin ketawa ketiwi sendiri, kadang bikin mikir, kadang bi...

Tekad Hidup Lebih Sehat

Sabtu 6 Juli lalu, kami sekeluarga sedang terjebak kemacetan di tol menuju Bandung, ketika tiba-tiba papa mertua menelpon: mama mertua terkena serangan jantung, dan sempat hilang nafas sampai harus dipompa jantungnya! Langsung kami cari jalan keluar tol, putar balik menuju Jakarta. Ketika tiba di rumah sakit, beliau masih diisolasi di ruang ICCU dan belum boleh dijenguk. Kami baru bisa menjenguk beberapa jam kemudian, itupun hanya keluarga inti yang boleh masuk. Di ruang ICCU yang dingin itu, beliau tidak diperbolehkan bicara terlalu banyak, supaya jantungnya tidak bekerja terlalu keras. Tangan kanannya menggenggam tangan suamiku, tangan kirinya menggenggam tanganku, lalu berkata… “Ampuni mama ya, Mas…” “Ampuni mama ya, Mbak…” “Jaga pernikahan, yang rukun...” Beliau menangis, suamiku menangis, aku menahan tangis… sambil mengusap kening beliau dan bilang, “Mama pasti sembuh.. banyak sekali yang mendoakan mama.. yang penting mama semangat ya”. ...

Jangan Lupa Jadi Istri

Saat berada di Malang untuk mengunjungi salah satu perusahaan yang kami invest beberapa waktu lalu, secara spontan saya dan suami diminta untuk sharing tentang #CoupleGoals : An Inspiring Story from Dreamable Couple. Without preparing anything, it turned out to be an intimate sharing sessions that we enjoyed much.  Pada sesi yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam itu, kami bercerita banyak soal perjalanan kami berdua sebagai pasangan, mulai dari nol hingga sekarang, jatuh bangunnya, tips dan saran, dan menjawab pertanyaan dari para peserta.  Jawaban dari beberapa pertanyaan  sudah pernah saya tulis di blog ini, seperti:  Marriage Tips Finding The Right One Women are like cars? 8 Tips Untuk Istri Agar Suami Tenang Bekerja Jaga kesehatan pernikahan seperti menjaga kesehatan badan Senang bisa sharing di Malang bareng @nataliardianto tentang random things, mulai dari history, love story, relationship, marriage, struggles, financia...

Berapa Biaya Liburan ke Resort di Maldives Sekeluarga?

Disclaimer: Sebelum berprasangka, tulisan ini dipublish bukan untuk tujuan riya, melainkan untuk berbagi informasi buat yang membutuhkan saja. Paham yaaa. πŸ‘»πŸ‘» Sebuah kiriman dibagikan oleh Nuniek Tirta (@nuniektirta) pada Apr 21, 2017 pada 8:40 PDT Judul di atas adalah pertanyaan yang cukup sering saya dapatkan dari teman-teman sejak saya pulang dari liburan sekeluarga di Maldives minggu lalu. Kalo banyak yang nanyain berarti banyak yang pingin tau  informasinya,  jadi saya tulis di sini aja ya.  Semoga bisa jadi gambaran buat teman-teman untuk mempersiapkan budget liburan keluarga ke resort di Maldives. Silakan dishare ke pasangan buat kode-kode, ehehehe.  Tahun ini bukan pertama kalinya saya ke Maldives. Sebab dua tahun lalu saya dan suami sudah pernah liburan ke Maldives berdua saja untuk ritual hornymoon di ulang tahun pernikahan kami. Oleh-oleh dalam bentuk tulisan saya untuk LiveOlive bisa dikonsumsi gratis di sini:  Tips Libura...

Big Bad Wolf Book Sale Jakarta 2017 Pre Sale VIP Invitation

Siapa yang tahun lalu kalap borong buku di The Big Bad Wolf Book Sale Jakarta ? Sayaaa Siapa yang tahun lalu udah bawa koper gede masih nggak muat nampung belanjaan? Sayaaa Siapa yang tahun lalu nggak cukup sekali hunting buku di Big Bad Wolf Book Sale?  Sayaaa Suasana Big Bad Wolf Books Indonesia jam 1-4 pagi dinihari tadi, masih antrii 😜 Tapi relatif lebih sepi dibanding jam normal. Kami berempat asik berpencar cari buku masing2 tapi nggak kesulitan ngumpul lagi. Pada kunjungan kali ini, banyak judul buku yg nggak aku temui saat pre-opening sale, area 100% dibuka, dan layout cashier berubah menyesuaikan banyaknya pengunjung yg hadir. Total ada 23 kasir kalau nggak salah, dan antri semua πŸ˜… Tapi nggak lama sih. Yg harus diberi penghargaan khusus adalah para petugas yang masih semangat kerja, baik itu nyusun buku, ngambilin buku permintaan pengunjung, kasir, atau packing. Meski udah dinihari dan ada aja pengunjung yg bossy, mereka masih ramah2 aja. Yg belum s...

Merayakan Cinta di Pulo Cinta (Review, Biaya, Giveaway!)

Prolog Teman-teman mungkin sudah tau ya, seharusnya saya dan suami merayakan wedding anniversary kami bulan ini di Santorini, seperti yang sudah saya impikan selama bertahun-tahun. Tapi terpaksa batal karena suami ada urusan yang tidak bisa diwakilkan, yang dapat mempengaruhi masa depan serta hajat hidup orang banyak. Cerita lengkapnya sudah saya tulis di sini: Santorini Dream .   Tapi Tuhan Maha Baik, Ia memberikan kami penghiburan yang sangat indah: merayakan cinta di Indonesia rasa Maladewa : Pulo Cinta 😍   Sebuah eco-resort berbentuk hati/cinta (heart/love)  yang keindahannya belakangan ini tengah melegenda terutama di kalangan blogger dan penggiat sosial media.  Tempat ini juga sudah masuk dalam bucket list saya sejak pertama kali saya "menemukannya" di facebook pertengahan tahun lalu.    Tepat di hari yang seharusnya kami berangkat ke Yunani, saya dan kakak saya bertemu dengan Pak Tony, Presiden Direktur Pulo Cinta. Kami diperken...

Bagaimana Cara Membagi Waktu?

Minggu lalu saya diwawancara untuk sebuah artikel berjudul Nuniek Tirta: angel investor, founder of Startuplokal, mother, and wife  yang diterbitkan oleh ANGIN (Angel Investment Network Indonesia). Kebetulan saya baru saja bergabung menjadi angel investor ke-60 sekaligus investor wanita ke-30.  Pertanyaan pertama, saya diminta untuk bercerita tentang siapa saya. Pertanyaan kedua, dan ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima: bagaimana cara saya membagi waktu sebagai seorang entrepreneur, angel investor, ibu dan istri.  Photo by Sweet Escape Jawaban singkatnya dapat dibaca pada artikel tersebut. Namun pada blog ini, saya ingin menguraikan jawaban yang lebih komprehensif. Jadi nanti kalau ada yang menanyakan pertanyaan sama lagi, saya bisa tinggal kasih url postingan ini saja, hehehe.  Ini adalah prinsip saya dalam membagi waktu, berikut contoh konkritnya:  Know your priority Ini adalah prinsip utama dalam membagi wa...

#NutsTips Series: Tips praktis fashion dan style

Kalau kamu mengikuti social media saya terutama instagram di  @nuniektirta , pasti sudah familiar dengan hashtag #superaffordablestyle yang menampilkan detail pakaian yang saya kenakan pada hari itu, lengkap dengan tempat beli dan harganya.  #superaffordablestyle #ootd 08 Nov 2017 for President @jokowi mantu aka @ayanggkahiyang n @bobbynst wedding ceremony πŸ‘°πŸ» Baru terima undangan seminggu sebelum acara, baru sempat beli kebayanya H-2 πŸ˜… Kebaya payet 325k Kain ungu 100k Keduanya beli di toko kebaya persis di depan Transmart Pasar Pondok Gede πŸ‘ŒπŸΌ Kunci kebaya paripurna terletak di long torsonya, beli di toko kecil di @plaza_festival 115k πŸ‘ŒπŸΌ Clutch batik 35k aja beli di pasar tradisional waktu jalan2 ke Klaten πŸ‘ŒπŸΌ White studds shoes sale @metrodept @pondokindahmall.pim 350k for 3 pairs πŸ‘ŒπŸΌ So, siapa bilang kondangan anak Presiden ngga bisa pakai baju #affordable tanpa terlihat murahan? 😎 #nutstyle #nutstory #nutslyfe #nuniektirta #kebaya #kondangan #wedding #...