Skip to main content

8 Tips Untuk Istri Agar Suami Tenang Bekerja

#nutsonduty

Beberapa waktu lalu saya diundang sebagai pembicara untuk acara Penguatan Integritas Istri Pejabat dan Pegawai KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok, dengan topik "Istri Bersahaja, Suami Tenang Bekerja". Tim panitia yang diwakili oleh Mbak Umma mengatakan profil saya cocok untuk membahas topik tersebut, terlebih karena saya dikenal setelah konten viral "Istri Direktur" dengan ciri khas #SuperAffordableStyle :) 

Suami penasaran saya ngomong apa saja di sana. Setelah saya ceritakan, suami mendorong saya untuk menuangkan materi bicara saya tersebut ke dalam tulisan di blog, supaya bisa mencerahkan istri-istri lainnya :D Karena belum sempat, sudah beberapa kali ditagih nih :p Jadi, berikut inilah tulisannya ya... sekaligus dipersembahkan sebagai kado ulang tahun pernikahan kami akhir pekan lalu deh :) 



Ada 8 tips yang sudah saya praktekkan sendiri, dengan segala jatuh bangunnya. Apa yang saya tulis di bawah ini lebih detail dibanding pada saat saya berbicara, karena keterbatasan waktu. Supaya nggak terkesan "ah, cuma teori!", saya berikan juga beberapa contoh nyata. 

Berikut ini adalah 8 tips untuk para istri agar suami tenang bekerja. 

  1. Suami adalah pemimpin, istri adalah penolong

    Ini adalah tips dan prinsip yang utama bagi saya dalam berkeluarga. Bahwa suami ditakdirkan untuk memimpin keluarga, dan istri yang baik berperan sebagai penolongnya. Ketika suami mendapat godaan untuk melakukan suatu kesalahan, istri menolongnya dengan cara tak lelah untuk mengingatkannya. Ketika suami tidak mampu menjalankan perannya, istri menolong untuk menopangnya, sampai suami bisa kembali memenuhi tugas dan kewajibannya.
    Contoh nyataDi awal pernikahan, suami pernah bekerja tanpa digaji selama 6 bulan berturut-turut. Padahal kami baru saja melahirkan anak pertama, dan membeli rumah dengan cara kredit di bank. Saya mengambil alih peran sebagai pencari nafkah keluarga, sampai ia mampu mendapatkan pekerjaan lain dengan penghasilan yang layak. Gaji saya setiap bulan sebagai sekretaris di perusahaan minyak habis dalam sekejap untuk membayar cicilan rumah yang jumlahnya lebih dari setengah gaji saya waktu itu, beli susu, popok, bayar gaji pembantu (yang literally punya lebih banyak uang daripada saya), uang transport, makan, biaya ke dokter... Pernah menangis di depan rumah sakit melihat taksi berbaris karena uang saya habis buat bayar imunisasi dan nggak cukup buat pulang naik taksi, jadi harus gendong bayi di siang bolong naik angkot dan jalan kaki sampai rumah.. . Waktu itu saya nggak cerita apa2 ke suami karena tau dia juga pasti tertekan dengan kondisi itu.  Saya cuma kirim pesan singkat ke dia: "Kita nggak bisa  begini terus..."  




    Thank 
    Another blog post brought up by FB Memory... still worth to share. Pic by @sweet.escape on our holiday in Kyoto last year. Pegadaian I dont go to office everyday; perhaps only twice a week or less. Thus when I do, I embrace conversation with hubby along our way. Like last Monday. We were giggling as we passed by Pegadaian, remembering those hard days when we were out of money and I have to mortgage a set of gold jewelry given by my mom in law as a present for delivering her first grand daughter, to meet ends. The next 2 months I had to sell that heart-shaped box of jewelry set worth 6mio at that time, to pay credit card that we used to buy milk, diapers, pay loans, insurance, maid’s salary, etc. I remember at that time my maid literally has much more money than I had. We just had a newborn baby and took credit from bank to buy a house. My hubby didn’t get salary for 6 months working in a startup recommended by.. forget it. Crazy silly days. I didn’t share the problem with anyone else. I thought it’s gonna be our forever secret. Until one day as he became a speaker for an event held by Gramedia, in front of 300 audiences he revealed: “Saya pernah kerja 6 bulan nggak digaji sama sekali. Padahal baru punya anak pertama. Istri saya yang menafkahi keluarga.” 😱🙊 And the other day, his partner who’s also my friend asked him in front of me: “Nat, Nuniek matre nggak?” He retold the story above and added, “Kalo matre dia gak bakal kawin sama gue, gaji gue waktu married gak sampe setengah gaji dia.” 😂 Financial problem is one of top 3 causes of divorce, as many research show. So if you’re marrying someone because of his/her money, I suppose you are prepared for a divorce once s/he is broke. Unless you have an evilish plan: marry to rob your partner’s money. Speaking of which, that wouldn’t make your life easy, leave alone happy. Original post: http://post.nuniek.com/post/45831330717/pegadaian #nutsays #nutsblog #nutslyfe #nutslove
    Sebuah kiriman dibagikan oleh Nuniek Tirta (@nuniektirta) pada


    Mama saya juga telah memberikan contoh teladan menjadi istri sebagai penolong suami, ceritanya pernah saya bagi di instagram post yang ini:      

       
    ➡️My story, lanjutan post sebelum ini ➡️ Alm. papaku juga pernah di PHK, karena restoran Jepang tempat beliau kerja tutup akibat bangkrut. ⏩ Waktu itu sekitar tahun 1990-1991, kakakku @rinakusuma_nayzay baru saja lulus SD dan mau masuk SMP. ⏩ Tidak ada pesangon yg memadai, jadi mama harus putar otak untuk membantu keuangan keluarga. ⏩ Konon, pernah uang belanja tinggal 60rb, harus beli sepatu wajib sekolah kk warna hitam 40rb. ⏩ Mama adalah ibu rumah tangga sejati. Tidak pernah kerja kantoran, tapi di rumah  tetap menghasilkan. ⏩ Mama buka toko kelontong di rumah, jualan apa saja dari permen sampai minyak tanah. ⏩ Sejak papa di-PHK itu, mama nambah varian jualan baru: kerupuk gendar yg dititip ke warung2 yg lebih besar. ⏩ Aku dan kk bertugas bawain kerupuk ke warung2 tersebut dan mengambil uang hasil jualan hari itu. ⏩ Uang hasil jualan itu yang menolong perekonomian keluarga kami saat papa masih  berusaha mencari pekerjaan kembali. ⏩ Kadang ketawa sendiri kalau ingat dulu aku sering malas2an melayani pembeli, habis lagi enak2 makan disuruh nuangin minyak tanah 😂 ⏩ Padahal tanpa jualan, mungkin saja kakakku hanya tamatan SD dan aku bahkan tidak lulus SD... Adikku malah nggak lulus TK? ⏩ Siapa sangka, sekarang kakakku sudah menamatkan S2 di Inggris hasil beasiswa. Dan aku pun tengah menyelesaikan S2 di Jakarta. Adikku juga sarjana dan sudah bekerja di televisi swasta. ⏩ Kira2 setahun setelah di PHK papa baru dapat kerja lagi. Papa langsung memeluk mama dan anak2nya ketika pulang membawa kabar baik itu. ⏩ Tanpa disadari papa mama telah memberi contoh nyata, bahwa suami adalah kepala keluarga, istri adalah penolongnya. ⏩ Thank you so much untuk semua pengorbanan papa mama, kasihmu sungguh tak terhingga 🙏🏼 ⏩ Singapura, 16 April 2017 Nuniek Tirta ~tissue mana tissue~ #nutstory #nutslyfe #nuniektirta
    Sebuah kiriman dibagikan oleh Nuniek Tirta (@nuniektirta) pada
  2. Manage expectation 
    Sebenarnya ini berlaku nggak hanya dalam hubungan dengan pasangan saja, tapi juga untuk segala hal dalam kehidupan. Harapan lebih tinggi dari kenyataan = kekecewaan. Kenyataan lebih tinggi dari harapan = kebahagiaan. Tapi harap bedakan antara harapan dengan mimpi ya. Kalau mimpi sih harus setinggi langit, coz sky is the limit. 
    Saya baru mengerti konsep mengelola ekspektasi ini dari Becky Tumewu, saat kami ditanya tentang apa harapan kami terhadap pasangan, oleh Pak Hermawan Kartajaya.

    Contoh nyataDulu saya sering kecewa karena mengharapkan suami bisa lebih romantis. Masa istri ulang tahun nggak pernah dikasih kado sama sekali (Setelah 10 tahun nikah baru ngasih kado, akhirnya!) Terus istri seharian ke mana aja nggak pernah ditanyain, nggak pernah ditelponin. Sampai teman saya yang jalan sama saya seharian, jam 11 malam bilang, "Eh iya loh gak ditanyain suami sama sekali, kok bisa sih?" Belakangan saya belajar, kita nggak bisa mengubah orang lain kalau dia sendiri nggak mau berubah. Jadi daripada kecewa terus, saya menurunkan standar ekspektasi saja. Saya juga belajar memahami kebiasaan suami melalui analisa pohon keluarga. Tentang manage expectation ini sudah pernah saya bahas di vlog, bisa ditonton lagi di sini:




  3. Choose your response

    Sebagai manusia, wajar sekali jika kita sering kali tergoda untuk bereaksi atas suatu aksi. Padahal, bereaksi bukanlah pilihan bijak. Yang terbaik adalah ketika kita merespons, bukan bereaksi. Sebab reaksi hanyalah reflek terhadap suatu aksi. Sedangkan dalam kata respons, terdapat suatu responsibility. Artinya, kita bertindak sesuai tanggung jawab. There's RESPONSIBILITY in the word RESPONSE, while there's only REPEATING ACTION in REACTION. And it makes a total difference.
    Contoh nyataKetika suami mendapat tekanan untuk membatalkan rencana perjalanan kami ke Santorini hanya beberapa hari menjelang waktu keberangkatan (setelah 9 bulan direncanakan dengan matang), saya hanya bilang: "Yaudah kalau memang belum bisa berangkat gpp ditunda dulu, nanti Senin aku coba urus ganti tanggal pesawatnya semoga masih bisa." FYI, berangkatnya Rabu. Nggak sedih? Ya sedihlah pasti. But I chose to response (keep calm and support husband) instead of  giving reaction (nangis/marah/ngambek/etc. yang bikin suami tambah terbebani). Suami waktu itu lebih bete, saya masih bisa puk2 dia. Saya mengerti bahwa pembatalan itu bukan kehendaknya dan penyebabnya ada di luar kuasanya, jadi ya ikhlaskan saja. Ceritanya bisa dibaca di sini: Santorini Dream.  


  4. Keep up!
    Always update anda upgrade. Don't let the gap keeps you apart. Teruslah berusaha menjadi pasangan yang sepadan, sebagaimana Tuhan juga bersabda: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18) 

    Contoh nyataDulu saya pernah terlena dengan sindrom "keluarga kecil bahagia sejahtera" sampai merasa tidak perlu berinteraksi banyak dengan dunia luar. Tanpa disadari, dalam hal aktualisasi diri suami sudah berada di level 8, sedangkan saya ketinggalan jauh di level 4. Bahayanya adalah ketika ngobrol mulai nggak nyambung sementara di luaran sana banyak orang yang lebih nyambung untuk diajak bicara karena selevel. Maka saya bangkit dan mengejar ketertinggalan itu dan membangun kembali personal branding yang sempat tenggelam. Jadi kalau dulu orang taunya saya cuma "istrinya Natali", sekarang orang2 tau kami sama2 aktif di dunia startup dan membangun komunitas #Startuplokal. Kisah selengkapnya sudah pernah saya tulis, bisa dibaca lagi di sini: Women are like cars?  
     
  5. Add value 
    Tambahkan nilai, jangan tambahkan beban. Kalau bisa, dengan kemampuan dan keberadaan kita, itu menambah nilai lebih bagi pasangan. Pernah dengar quote dari Brigham Young: "You educate a man, you educate a man. You educate a woman, you educate a generation"? 

    Contoh nyata
    Sejak saya kuliah pascasarjana jurusan psikologi konseling, suami jadi ikut belajar juga. Tiap antar jemput saya ke kampus, dia selalu tanya belajar apa saja hari itu. Saya jadi ada kesempatan mengulang kembali pelajaran yang saya dapatkan, dan suami jadi ada kesempatan menambah ilmu baru. Pernah saya ajak suami sit in di kelas atas undangan dosen Skill Konseling, karena hari itu kami membahas tentang metode MBTI yang bagus digunakan untuk memahami pasangan. Ternyata suami antusias sekali dan malah catatannya lebih lengkap dari catatan saya dan teman-teman, hehe. Nggak hanya itu, suami juga menyarankan HRD Tiket.com untuk menggunakan metode tersebut guna memahami karakteristik calon karyawan. Jadi setiap pelamar yang datang untuk interview diminta untuk mengisi tes MBTI tersebut.

  6. Listen more
    Listen, not only hear. Kita semua tahu bahwa manusia diberikan 2 telinga dan hanya 1 mulut agar kita bisa lebih banyak mendengar daripada berbicara. Tapi pada prakteknya memang nggak gampang buat kita bisa lebih mendengar untuk menyimak daripada sekedar mendengar untuk menimpali pembicaraan. Apalagi terkadang, kita juga harus bisa menyimak apa yang tersirat. Seperti halnya wanita ingin dimengerti, pria pun ingin dipahami.

    Contoh nyata  
    Saya dan suami punya ritual #pacaranmingguini yang diusahakan rutin setidaknya seminggu sekali. Biasanya kami makan malam berdua saja, dilanjutkan dengan nonton bareng. Persis orang pacaran deh. Ketika ada hal-hal yang mengganjal, kami menggunakan metode BPS: Bagaimana Perasaan Saya. Dengan metode ini, kalau suami sedang BPS maka saya wajib mendengarkan dan tidak boleh memotong pembicaraan sampai dia benar-benar selesai, begitupun sebaliknya. Kalimat yang digunakan saat BPS pun dipilih yang asertif dan tidak menyerang. Contoh kalimat asertif: "Aku tuh sebenernya sedih lho kalau kamu ambil keputusan besar sendiri tanpa tanya pendapatku dulu. Aku merasa kurang dihargai gitu." Contoh kalimat negatif atau kurang asertif: "Kamu tuh kenapa sih nggak tanya pendapatku dulu, main ambil keputusan besar sendiri. Nggak menghargai aku banget deh." Kalo k alimatnya asertif, biasanya pasangan akan lebih mudah mendengarkan. 
    Tapi asli, melaksanakan poin ini sejujurnya memang nggak semudah teori. Butuh latihan seumur hidup buat menerapkannya, hehe.  

  7. Demand less
    Terkadang atau bahkan seringkali, istri nggak pernah tau masalah apa saja yang dihadapi suami di kantor. Suami juga mungkin enggan cerita karena nggak mau menambah beban pikiran istri. So the least we can do as a wife is to demand less. Minimal, istri WAJIB tau apa saja jobdesc suami. Misal, jobdesc suami adalah tukang jaga server. Kan dia sendiri juga nggak pernah tau kapan server itu down, mau hari kerja apa hari libur, mau siang bolong atau tengah malam. Kalau sifatnya mendesak, suami harus siap handle kapanpun di manapun. Istri juga harus siap support suami, karena toh itu juga bukan kemauan dia untuk bertugas di luar hari dan jam kerja. 
    Contoh nyata
    Sebagai salah satu pimpinan perusahaan, apalagi memimpin divisi teknologi di perusahaan berbasis teknologi, suami punya tekanan besar dalam menjalankan pekerjaannya. Kalau dulu waktu awal menikah dan dia masih berstatus karyawan  saya sering menuntutnya untuk pulang tepat waktu, sekarang tidak pernah lagi. Bahkan terkadang saya menemaninya lembur di kantor, terutama masa-masa mulai dibukanya penjualan tiket kereta api mudik. Saat liburan pun, suami harus siap siaga. Waktu liburan di Maldives, anak pertama kami sempat protes karena daddynya sibuk dengan HPnya saat makan siang. Kejadian terakhir, saat suami beli TV OLED terbaru, anak pertama kami yang kritis itu protes lagi, katanya: "pasti buat main game lagi!" Saya jelaskan, setiap orang harus punya stress release biar tetap waras. Daddy kerja di kantor sudah berat, pulang ke rumah waktunya habis buat keluarga, hampir nggak pernah ada waktu buat diri sendiri. Jadi kalo daddy main game nggak apa-apa, itu buat me-time-nya. Kita bersyukur hobby daddy cuma main game di rumah, aman dan murah. Teman-teman mommy daddy ada yang hobbynya main mobil mahal (dan bukan mobil2an :p), ada yang hobbynya main golf sampai malas pulang ke rumah (padahal habis dinas ke luar negeri berhari-hari), ada yang hobbynya dugem sama... Jadi kalo daddy hobbynya cuma main game di rumah, ya bersyukurlah! :)


  8. Be grateful
    Jangan lupa bersyukur! Berapapun jumlahnya rejeki yang diberi Tuhan melalui keringat suami, wajib disyukuri. Bukankah Tuhan akan menambahkan rejeki bagi orang-orang yang bersyukur? Besides, I've learnt the hard way, that the journey to find peace of mind starts with gratitude, followed by self-awareness and acceptance. Untuk poin be grateful ini saya nggak perlu kasih contoh nyata lah ya, tapi saya punya ilustrasi yang "dalem banget" di bawah ini... 


    When was the last time you said thank you to your husband?

    Yuk yang sudah dan masih pada punya suami, pulang nanti suaminya dipeluk yaaa... :)

    Jakarta, May 2017
    Nuniek Tirta Ardianto



Comments

erny's journal said…
Aku baca postingan ini dan seketika hatiku adem. Aku belum menikah mbak, tapi tips ini cukup mencerahkanku krn dalam waktu dekat memang sedang merencanakan pernikahan. Semoga mbak dan mas Natali terus diberi kebahagiaan yah
@mirasahid said…
Kalau bicara pasangan teladan, mba Nuniek dan mas Natali memang layak banget jadi panutan. tips nya keren banget mba, sekaligus dikasih dengan contoh-contoh nyatanya. Insya Allah ini jadi pelajaran buat aku ke depannya
Zata said…
Aww pas banget nih tips-nya mba Nunik, makasih yaaa.. Tips terakhir paling ampuh tuhhh :)
Ophi Ziadah said…
Inspiring as alwyas... Bs menemukan tips2 ini dari kehidupan perkawinan yg dijalani merupakan hal yg luar biasa mba. Pasti tidak semudah merangkumnya ya saat menjalaninya.
Salut kemudian bs jadi "sikap diri".
Catatan sy msh rombeng2... Berasa kena banget sm beberapa poin dr Mba Nunik.
Poin 2 dan 3 PR banget buat saya.
Thanks sharingnya mba
Sandra Hamidah said…
So sweet dan sangat menginspirasi Mba^^ Suami ku juga sama enggak pernah nelpon atau over protective sama aku tapi disitulah seni nya, beliau memimpin dan berjuang secara nyata untuk aku dan anak pertama kami... semoga keluarga kami juga bisa sukses seperti kalian, Mba dan keluarga sehat selalu ya aamiin^^
Anonymous said…
mau peluk suami kenceng kenceng sampe rumah :)

#gabisa komen apa apa#
Akarui Cha said…
Sweet. Deep. Terima kasih sharing-nya mba. Aku ingin lebih banyak belajar untuk terus menjadi penolong bagi suamiku. Doakan aku ya mba.

Popular posts from this blog

Saya Nuniek Tirta, bukan ((hanya)) seorang Istri Direktur

Catatan penting: untuk mencapai pemahaman penuh, mohon klik dan baca setiap tautan.  Awalnya adalah pertanyaan . Membuahkan suatu jawaban .  Diposting di akun pribadi, seperti yang biasa saya lakukan sejak hampir 15 tahun lalu , bahkan sebelum Mark Zuckerberg membuat Facebook.  Jawaban yang juga autopost ke facebook itu menjadi viral, ketika direshare oleh lebih dari 20ribu orang, dengan emoticon lebih dari 38ribu, dan mengundang 700++ komentar. Kemudian menjalar liar, ketika portal-portal media online mengcopas ditambah clickbaits.  Tidak ada media yang mewawancara saya terlebih dahulu ke saya kecuali satu media yang menghasilkan tulisan berkelas dengan data komprehensif ini .   Well, ada juga yang sempat email ke saya untuk meminta wawancara, tapi belum sempat saya jawab, sudah menurunkan berita duluan selang sejam setelah saya posting foto di bustrans Jakarta .  Selebihnya... Tidak ada yang konfirmasi terlebih d...

Tempat belanja baju murah berkualitas

    Hai! Sudah baca postingan blog aku sebelumnya tentang  Industri Fashion dan Harga Jujur ?  Di situ aku jelasin, kenapa aku tahu caranya mendapatkan produk fashion murah meriah.  Nah sekarang aku kasitau ya, di mana aja sih biasanya aku menemukan produk2 fashion khususnya baju harga murah berkualitas...   Bazaar Bazaar Bulog Bazaar Bank Mandiri Bazaar Bapindo (tapi katanya udah nggak ada lagi sejak Juli lalu, hiks) Festival Kemang Street Festival Jakarta, biasanya Juni/Juli  Kappabashi Street Festival Asakusa (dapet jaket, tas, boots keren ngga sampai 40ribuan), biasanya Juni/Juli    Garage Sale / Second Market Finder's Fair, Cilandak Town Square Kemang Garage Sale Warmee Garage Sale, Senopati  Pasar Tradisional Pasar Ar-Riyadh Tegal Parang (kaos dan sandal baru bagus2 15ribuan)    Onlineshop   Sale Stock Indonesia, harga jujur BelowCepek.com, semua di bawah 100ribu Marketplace Chatuchak Bangkok...

Family Holiday at Club Med Bintan - Premium All Inclusive Resort

I just had family holiday at Club Med Bintan, on 14-17 December 2017. To be frankly honest, it was way more fun than I expected as a short weekday getaway. Definitely one of the best vacation that we ever had! Photo of us in Club Med Bintan by Sweet Escape Transportation from Jakarta to Bintan Island We flew on Thursday morning, 14 December by Garuda Indonesia from Terminal 3 Soekarno-Hatta International Airport to Tanjung Pinang Raja Haji Fisabillah International Airport. It was scheduled to be boarding at 10:30 but unfortunately got delayed for about an hour, so we arrived at around 1pm.  Transportation from Bintan airport to Bintan resort  At Bintan airport, a driver was already waiting with a sign board "Club Med". We then continued the journey by car, an hour long road without traffic jam at all. Not much to see along the way, most of it was some kind of deserted areas. But when we entered Lagoi area, it is green everywhere I see.  Arrival at ...

Broadway & Lo-Deh

We spent the afternoon around Alam Sutera today because my eldest had a hangout date with a friend. While dropping her off, I sneaked in a quick errand to Vintage Vibes Broadway to drop some preloved items. I’ve been consigning there for years now. It’s almost a ritual. End of year equals decluttering season. Sorting through things forces me to ask honest questions. Do I still need this or is it ready to have a new life with someone else. Some items get sold, some get donated, and somehow my head always feels lighter along with the shelves. While waiting, the youngest sat with daddy, wrestling numbers and fractions like a true year end plot twist. Math lessons in public spaces have their own soundtrack. Scribbling, deep sighs, and occasional I think I get it now followed by wait no I don’t. All that while sitting in front of coffee shop, ordered their signature coffee and tea, and our daughter bought iced chocolate from the shop next door.  When the hangout was done, we decided t...

Roadtrip With No Deadline and Plenty of Snacks

Road trip day! We hit the road at 8 a.m., thirty minutes later than planned. But honestly, who cares? There was no deadline, no race to win. As long as everyone was accounted for and nothing important was left behind, we were good. Bonus point: I actually slept well the night before, which meant as the navigator of this journey, wasn’t half-asleep behind the wheel feels like small but crucial victory. Our first stop was at 9:30 a.m. at KM 57 rest area . The reason was simple and non-negotiable: coffee. My husband also needed to stop to do some office transfers, because work apparently travels with you now. While he was busy, I took Coffee Kenangan promo : buy two Toffee Nut Lattes , get one Americano free. Perfect timing, because my mom had specifically requested an Americano. Total damage: 50k. Cheap joy is still joy. While my husband was still glued to his phone, I dragged my mom to participate at Jasa Marga survey . The prize? An umbrella. She was ridiculously happy because, surpri...

Year End Reflection Ritual : 2025 - 2026

I came across Mel Robbins’ year end reflection ritual, six questions she has been answering for the past twenty two years. Six questions sound harmless, almost cute. Like a magazine quiz that ends with “you are a sunflower.” But once I started answering them honestly, I realized this was not a personality test. This was an emotional audit. Let’s start with the hardest one. The low points of the year. There were some. Actually, quite plenty. I can say this without drama now, but 2025 has been my lowest year since 2013. That year taught me survival. This year tested endurance. One of the heaviest moments came quietly, from a place I never expected to reach our home. It felt like standing in the middle of a storm that wasn’t ours to begin with, yet somehow found us anyway. My husband chose to stay when it would have been easier to leave, to keep holding the bridge together so others could cross safely. Opportunities passed by, shiny and tempting, but he remained where he believed responsi...

Perawatan wajah dan cerita masa muda

Andaikata blog dan social media saya punya semacam FAQ (Frequently Asked Question, alias pertanyaan yang paling sering ditanyakan), sudah pasti di urutan pertama akan bertengger pertanyaan: "Pakai produk perawatan wajah apa?"  Banyaaaakkk banget follower instagram / facebook / twitter saya yang nanya gitu, dan minta saya mengulasnya. Saya bilang sabar, tunggu tanggal mainnya. Tapi sebelum saya jawab pertanyaan itu, saya mau mengenang masa muda dulu ah..  Jadi begini cucuku... Waktu pertama kali ngeblog 15 tahun lalu , usia saya masih 21 (yak silakan dihitung usia saya sekarang berapa, pinterrrr). Jadi jangan heran kalo gaya bahasanya masih 4I_aY 4b3zzz.. (eh ga separah itu juga sih, hehe). Tapi ekspresi nulisku di masa-masa itu masih pure banget, nyaris tanpa filter. Jadi kalo dibaca lagi sampai sekarang pun masih berasa seru sendiri. Kayak lagi nonton film dokumenter pribadi. Kadang bikin ketawa ketiwi sendiri, kadang bikin mikir, kadang bi...

Christmas, Cake, and a 45 Year Old Legend

Merry Christmas and happy 45th birthday to my amazing husband! The yin to my yang. The calm app to my permanently open tabs.  Year 2025 really said, “Let’s test you,” didn’t it?   Testing limits, patience, and faith all at once. So here’s my prayer for the new year. More luck. More ease. More people loving you. And above all, God’s blessing wrapped around you like bubble wrap. Amen. The day started exactly how every memorable family day should. With chaos. From BSD , we had to swing by Jagakarsa first. The main mission was innocent enough. Pick up pre ordered bread from my former neighbor. Secondary mission, collect a giant burger from Ken’s Burger for birthday candle blowing purposes. Because nothing says “happy 45th” like a burger pretending to be a cake. But of course, upon arrival, another neighbor was about to leave for mudik . So we talked. And talked. And kept talking while repeatedly saying, “We really have to go,” yet not moving at all. Our Dutch tenant had alrea...

Full Plates, Full Agendas

Ladies’ day out with Mba Fit usually begins with me doing nothing but being picked up. At around 09:20, she arrived in the lobby carrying not gossip, but food. The best kind of opening. She handed me a Wegogrill package filled with frozen chicken sausages and their signature smoked chicken—no flour, no sugar, no MSG, no eggs, no milk. Healthy and genuinely tasty. Thank you, Mba Fit and Wegogrill! Next stop: Itjeher Salon . The plan was straightforward. I did creambath and blow, Mba Fit did creambath and manicure. Unfortunately, this time my experience was not as good as the usual. The massage lacked soul, the blowout lacked commitment, and the final result lacked longevity. By the time I stepped outside, my hair had already given up on life. Better remember the good therapist's name next time! After that, hunger took over, as it always does. We headed confidently to Ramu Saji by Ashoka , our usual safe space. Only to be greeted by a sign that said Tutup. Closed. So we pivoted, li...

A Day Off from Motherhood

Happy Mother’s Day ! This year, I asked for nothing. No flowers, no cake with dramatic candles, no surprise gifts. I simply announced to my husband and children, very calmly and very firmly: today, I am on leave from being a mother. Full holiday. Zero duties. Which meant no cooking, no dishwashing, no laundry sorting, no reminding anyone of anything. And to my surprise, they took it seriously. Like…   seriously   seriously. The kitchen was fully taken over. Meals were planned, cooked, and served. The laundry from the service? Sorted and packed for our upcoming road trip. They even tidied up   before   the Ranger Clean Sheet team arrived, so the ranger could handle the things they couldn’t or simply didn’t want to do. Teamwork, delegation, project management . I was impressed. My husband, who once treated dishwashing like a personal enemy, suddenly became the most diligent man in the room. Yes, we have a dishwasher. Yes, he still washed all the big pots and pans by ha...