Saya Nuniek Tirta, bukan ((hanya)) seorang Istri Direktur

Sunday, October 16, 2016



Catatan penting: untuk mencapai pemahaman penuh, mohon klik dan baca setiap tautan. 

Awalnya adalah pertanyaan. Membuahkan suatu jawaban

Diposting di akun pribadi, seperti yang biasa saya lakukan sejak hampir 15 tahun lalu, bahkan sebelum Mark Zuckerberg membuat Facebook. 

Jawaban yang juga autopost ke facebook itu menjadi viral, ketika direshare oleh lebih dari 20ribu orang, dengan emoticon lebih dari 38ribu, dan mengundang 700++ komentar.

Kemudian menjalar liar, ketika portal-portal media online mengcopas ditambah clickbaits. 

Tidak ada media yang mewawancara saya terlebih dahulu ke saya kecuali satu media yang menghasilkan tulisan berkelas dengan data komprehensif ini.  

Well, ada juga yang sempat email ke saya untuk meminta wawancara, tapi belum sempat saya jawab, sudah menurunkan berita duluan selang sejam setelah saya posting foto di bustrans Jakarta




Selebihnya... Tidak ada yang konfirmasi terlebih dahulu ke saya. Maka maklum saja kalau banyak yang jadi salah tulis. 
                                                                                                                                                     
Nama saya jadi Nuniek Kirta, jadi Nuniek Titra, jadi Nunik Tirta, jadi Nunik Titra ...

Nama Natali Ardianto jadi Natalia ...

Tiket.com jadi perusahaan penerbangan ...
           
Saya dibilang berasal dari Jawa Barat ... padahal Jogja - Bangka 


Ditulis saya ogah pakai barang branded... Padahal saya nggak pernah bilang begitu.  Untuk barang-barang tertentu, saya juga pakai yang branded kok :) 

Yang ini okelah, dia cek dulu profil saya di linkedin ...

Ini masih oke, yang ini juga ... 

Ini bikin saya tersanjung karena disandingkan dengan Priscilla Chan dan Kate Middleton ... 

Ini analisa pribadi justru lebih mendalam daripada portal-portal online. Tapi salah nama jadi Natalie, dan nggak sampai gonta ganti BMW tiap bulan juga sih, mas ...

Ada juga yang sekedar menampilkan foto-foto saya dari instagram seperti ini dan ini ...


Ada pula yang rajin banget compile short videos saya ...

Demi apah, sampai masuk Lambe Turah ...


Tapi yang paling too much menurut saya, ketika makan bakso pinggir jalan saja bisa jadi headline ...
                                                                                   

Padahal sebenarnya sangat jelas, misi utama saya melalui #ootd #superaffordablestyle ini adalah untuk mengedukasi followers agar tidak bergayahidup melampaui kemampuan finansial mereka. Kalau mampu sih, ya nggak masalah.
Saya ingin menunjukkan bahwa untuk tampil gaya tidak harus selalu mahal, bahwa baju murah juga bisa kelihatan tidak murahan.  
Dan #ootd #superaffordablestyle itu saya lakukan bukan baru kemarin, tapi sudah sejak tahun lalu.  Kenapa sekarang fokusnya adalah saya sebagai Istri Direktur ...  

Sampai-sampai, sahabat saya mengirim screenshot google dengan keyword “istri direktur” isinya saya semua ... 


Dan sahabat yang lain menyuruh saya search “Istri Direktur” di Youtube pun juga sama...


I said ok that's it, it's time to state what I have to say in my blog now. 



“Masyarakat sangat senang menilai dengan emosi, membuat penilaian atas moral didasari atas apakah penilaian itu memuaskan atau tidak bagi dirinya, bukan soal benar atau salah.”

Saya bersyukur, ketika banyak yang menyampaikan betapa tulisan saya mampu mengubah cara pandang mereka, mempengaruhi perilaku mereka, menginspirasi mereka. Bahkan ada seorang ibu yang mengatakan terpukul dan baru sadar sebab selama ini menyalahgunakan pengelolaan uang yang dipercayakan suami kepadanya. 

Namun saya prihatin, ketika ada saja orang-orang yang lebih senang menilai berdasarkan asumsi. Menghakimi tanpa mau memahami. Menuduh tanpa mau mengetahui lebih jauh. Menyimpulkan tanpa mau merenungkan. Berprasangka tanpa mau bertanya. Mencela tanpa mau berkaca. 

Tapi santai sajaa.. Saya hanya tertawa saja membacanya. Komentar paling buruk sekalipun tidak pernah membuat saya down kok. Sebaliknya, saya semakin bersyukur sebab sampai saat ini hidup saya damai tenteram sejahtera karena tidak perlu berurusan dengan orang2 berpikiran negatif dan berprasangka buruk seperti itu. Alhamdulillah.

Tampaknya setelah ini, misi saya selanjutnya adalah mengedukasi masyarakat tentang literasi, sebab ternyata sudah parah sekali. 



Ketenaran bukanlah sesuatu yang pernah saya impikan. Ketenaran adalah “harga” yang harus saya bayar karena telah -katakanlah- menginspirasi orang lain. 

Teman-teman baik saya tahu betul saya tidak pernah mau jadi artis atau selebritis. Saya lebih senang berada di belakang layar. Di lain sisi, saya ingin terus berbagi, syukur-syukur bisa memberi inspirasi kepada teman-teman dan pembaca blog saya. Sebab ketika saya mati suatu hari nanti, hanya tulisan yang dapat saya tinggalkan.

Awalnya saya senang ketika semakin banyak yang membagikan tulisan saya, berarti semakin banyak pula yang membacanya, dan semakin banyak yang mudah-mudahan tercerahkan. Lama kelamaan,  lumayan kewalahan. Kebanjiran FB messages, kepenuhan add friend requests, kenaikan FB followers dari seribuan jadi 19ribuan, kenaikan instagram followers dari duaribuan jadi 14ribuan, disertai ratusan pesan pada inbox... Di sela-sela sempitnya waktu, saya berusaha membalasnya satu persatu.

Maka ketika akun instagram saya @nuniektirta tiba-tiba hilang begitu saja hari Jumat lalu, ada perasaan aneh seketika: kaget sekaligus sedikit lega. Kaget, karena bisa hilang begitu saja tanpa pemberitahuan. Sudah saya laporkan ke instagram, tinggal menunggu balasan. Tapi juga lega, karena semacam diberi jeda. Akhirnya mulai lagi dari 148 followers dengan akun instagram lama, @nuniek .




This too much spotlight almost burn me out. I only like being in a spotlight IF I have the control over it. Thus, blog and social media are the right place for me.

Untuk mengerem lampu sorot, saya sempat menolak undangan menjadi bintang tamu liveshow dari 2 stasiun televisi nasional, wawancara on air di beberapa radio, dan tawaran photoshoot di media. Sebelum heboh viral ini pun, sudah beberapa kali saya menolak tawaran wawancara media, atau mengalihkannya ke suami dan partner-partner saya yang lebih butuh eksposure untuk bisnis mereka.

Saya bersedia tampil di acara atau media yang menurut saya edukatif, informatif dan berkelas, sehingga saya bisa menyampaikan misi dan key messages saya dengan benar tanpa bias. 


Dikenal publik ((hanya)) sebagai Istri Direktur bagi saya bukan merupakan kebanggaan, tapi justru kemunduran. BIG setback for my personal branding, actually.

Saya membangun personal brand sebagai blogger sejak 2002, bahkan sebelum ada media sosial tertua, Friendster.

Ketika orang2 belum banyak yang tahu apa itu blog, saya sudah membangun komunitas blogger Indonesia terbesar di masanya, Blogbugs

Ketika orang2 belum pamer di sosial media, saya sudah rutin sharing foto hangout bareng teman-teman di album foto online, supaya teman-teman blogger Indonesia yang di luar negeri juga bisa tetap update dengan pergaulan Jakarta.

Saya membangun kembali personal brand yang sempat tenggelam karena sibuk dengan keluarga kecil bahagia, pada April 2010 dengan satu alasan: mengejar ketertinggalan. Sebab suami saya Natali Ardianto sudah di level 8, saya masih di level 4 dalam hal aktualisasi diri. Because keeping up with your spouse is one of the important keys in maintaining a good marriage.

Lalu rebrandinglah saya menjadi seorang digital networker, dan membangun komunitas #Startuplokal bersama partners yang rutin menggelar monthly meetup. Rebranding ini membuat saya  dikenal bukan hanya sekedar “Istri Natali”, tapi Nuniek Tirta yang aktif me-nurture industri digital startup di Indonesia. Sampai negara-negara seperti Irlandia, Amerika, South Korea pernah mengundang saya untuk belajar tentang entrepreneurship & digital ecosystem di sana.

Maka ketika berita yang muncul tentang saya terus-terusan hanya soal “Istri Direktur”, saya dan teman2 pun mulai terganggu. Teteh Ligwina Hananto geregetan, kenapa media tidak mengulas saya keseluruhan yang punya karakter dan dunia sendiri. Mbak Iim Fahima melalui whatsapp pun berpesan, agar saya kembali mengangkat branding sebagai Nuniek yang punya segudang prestasi. 



Saya, Nuniek Tirta, bukan ((hanya)) seorang Istri Direktur.

Kepada teman-teman media online yang terhormat, terima kasih atas semua tulisannya. Kini mari, stop highlight tentang “Istri Direktur”. Kalau masih perlu menulis tentang saya, tulislah tentang misi yang ingin saya sampaikan. Tentang siapa Nuniek Tirta yang seutuhnya. Nuniek Tirta sebagai ibu. Nuniek Tirta sebagai blogger. Nuniek Tirta sebagai penggiat teknologi informasi. Nuniek Tirta sebagai entrepreneur nurturer.  Nuniek Tirta sebagai #Startuplokal Initiator. Nuniek Tirta sebagai influencer ... 

Kepada para followers dan pembaca blog saya, terima kasih sudah mau membaca sampai disini. Semoga teman-teman bisa memahami esensi pesan yang ingin saya sampaikan, tanpa bias asumsi / persepsi / opini pribadi yang belum dikonfirmasi. Semoga apa yang saya tulis bisa berguna, syukur-syukur memberikan inspirasi. 

Sejak menjadi blogger 15 tahun lalu, hidup saya adalah buku terbuka yang bisa dibaca oleh siapa saja. Silakan baca, dan temukan siapa saya sebenarnya. Sebab membaca satu halaman saja tidak cukup untuk memahami seluruh isi buku, apalagi hanya membaca judulnya. Terlebih, membaca dari sumber yang belum tentu dapat dipercaya :)) 

Minggu, 17 Oktober 2016 00:50
Nuniek Tirta Sari 

*beberapa penyebutan nama saya edit untuk memudahkan media yang ingin copas* 

Keterangan foto: Semua foto diambil pada tanggal 1 Oktober di Clapham Coworking Space Medan setelah event #NgopiBarengTiket di Medan, dan di Hotel Adi Mulia setelah event Developer's Day Bekraf. 

You Might Also Like

40 comments

Subscribe