Banjarmasin – Day 2

Memulai hari pukul 4 pagi, meski baru bisa tidur jam 2 dinihari. Jam 5 pagi kami naik taksi ke Dermaga Belitung (argo 28ribu), lalu naik klotok (perahu motor) dengan tarif 100ribu per perahu. Kami berempat, jadi kalau dihitung per orang 25ribu. Sebenarnya perahu itu bisa diisi sampai 8 orang, tapi karena tak sabar menunggu penumpang lain, ya kami relakan saja membayar penuh. Kami memilih untuk langsung ke lokasi pasar terapung, dan tidak mampir ke Pulau Kembang yg penuh monyet (karena trauma lihat banyak monyet nakal waktu di Bali).

Saat tiba di lokasi pasar terapung, belum banyak yg berjualan karena masih gelap. Seiring dengan terbitnya matahari pagi, para penjual dengan perahu kecilnya pun berdatangan, menghampiri perahu2 penumpang. Ada yg menjual buah2an, kue2an, hingga sate, soto dan rawon layaknya sebuah restoran! Kami membeli jeruk seharga 20ribu, manggis 15ribu, kue ribu. Saat hendak pulang, baru kami menemukan restoran terapung, langsung minta berbalik arah dan untung bapak pemilik perahunya tidak menggerutu. Supaya ia senang, kami traktir ia untuk ikut sarapan.

Saya, bulik dan sepupu memilih sate ayam dengan bumbu spicy, sementara mama memilih rawon. Total kami menghabiskan 75ribu untuk 5 porsi makan & minum. Lucunya, saat perahu lain lewat, perahu kami terombang ambing dan sepiring rawon itu nyaris tumpah, dan kami teriak berbarengan :D Belum lagi saya yang sedang memegang segelas teh manis, menjaga betul supaya tidak ikut tumpah. Benar2 tantangan keseimbangan :)) Satu kapal lewat, kapal lainnya berlalu sambil memuncratkan airnya ke kapal kami, BYURRR! Kami pun basah. Hahaha… Seru sekali!

Jam 7 pagi wisata sungai sudah selesai, kami kembali ke Dermaga Belitung. Setelah menunggu taksi selama hampir 1 jam, kami kembali ke hotel. Karena taksi kali ini tanpa argo, kami terpaksa membayar hampir 2x lipat dari argo normal, menjadi 50ribu. Saat melintas, kami baru tau di dekat dermaga itu ada pasar tumpah di pinggir jalan. Andaikan tahu, pasti sudah kami sambangi pasar itu! Tampaknya seru: ada yg menjual sayur, buah, pakaian, perabotan, makanan, dll. Mereka menyebutnya pasar tungging karena yg belanja rata2 harus nungging, hehehe. Tiba di hotel langsung mandi dan aku mengajak mama sarapan di restoran hotel. Senang sekali melihat mama makan banyak, sambil ngobrol tentang anak2 dan suami. Tersirat bahwa mama senang dengan kepedulian suamiku terhadap mereka :) Oya, di sana disediakan jamu tradisional juga, aku minta dibuatkan yang ramuan Sehat Wanita :D

Jam 12 check out, Pajero putih telah menanti di lobi. Pemiliknya adalah tetangga sebelah rumah bulik, yg orangtuanya sama2 merantau dari Yogyakarta. Kami diantar ke Pasar Martapura, tempat paling terkenal untuk belanja intan, berlian, dan kain khas Kalimantan, sasirangan. Karena tak mau repot menawar dan panas2an, saya masuk ke toko yg paling ramai dan ber-AC. Nama tokonya Kalimantan’s, didominasi warna kuning. Ramaaiiii sekali di dalam, dan dari dialog antara penjual dan pembeli tampaknya rata2 adalah pelanggan yang balik lagi. Saya membeli beberapa aksesori seperti kalung, gelang, cincin, untuk dipakai sendiri maupun oleh2 ke anak-kakak-adik. Suami saya belikan kemeja sasirangan berwarna cyan, mudah2an dia suka (krn susah sekali seleranya).

Sebelum pulang, mampir makan di warung pinggir jalan. Ternyata sop iga di sana pakai telur ya! Dan capcaynya berwarna coklat. Melanjutkan perjalanan ke rumah bulik di Gunung Ulin, menghabiskan waktu 1 jam perjalanan (tanpa macet). Rumah bulik terletak agak di atas dan pelosok, dari jalan raya masih masuk ke jalan tanpa aspal yang berliku. Kiri kanan jalan dipenuhi perkebunan karet yang sangat teratur dan indah, tiap pohon berjarak 6 meter dengan posisi 5 arah mata angin. Pohon2 karet tersebut baru ditebang setelah berusia 25 tahun, dan setiap hari harus diambil getahnya supaya tidak menjadi cair (atau beku? lupa :D). Tantangan terbesar adalah ketika mobil dengan muatan 5 orang yg kami tumpangi harus melewati jembatan yang hanya terdiri dari 6 buah batang pohon pendek!

Tiba di rumah bulik dengan selamat sekitar jam 5 sore waktu setempat, masih terang benderang. Saya sempat keliling rumah bulik yg sederhana namun adem & nyaman. Bulik (adik papa) memiliki tanah berhektar-hektar yg dibelinya hanya seharga 8,6jt rupiah! Lahan tersebut ditanami padi, singkong, rambutan (dgn buah berlimpah sampai terbuang-buang), durian, pete, cabe, cempedak, duku, wah banyaklah. Di kampung itu hanya ada 40 kepala keluarga, itupun termasuk banyak dibanding rumah dinas yg ditempati sebelumnya, hanya ada 6 kepala keluarga dalam 1 desa!

Malam harinya hujan lebat dan mati lampu. Sialnya, keempat gadget saya lowbatt. Lagipula kalaupun nyala, hanya Telkomsel yg dapat sinyal, sementara nomor Halo yg saya pakai tidak didaftarkan layanan internet unlimited. Otomatis saya tidak bisa membaca, menulis, apalagi update status. Namun justru keterbatasan itu mengajak saya untuk menikmati alunan hujan dan membuka cakrawala dengan mendengarkan kisah2 penuh makna dari bulik dan pa’lik… Tentang itu, saya harus menulisnya di postingan terpisah :) Nantikan saja ya!

Nuniek Tirta

Nuniek Tirta is a multirole woman who plays part as wife of Natali Ardianto, mom of cute daughters M & V, initiator of Startuplokal.org, community manager of Fimela.com, committee of Eden.co.id, owner of HamilCantik.com, blogger at Nuniek.com, and influencer/buzzer via @nuniek. Feel free to contact me anytime at nuniek @ nuniek . com :)

Website - Twitter - Facebook - More Posts

Posted in extroverbal | Leave a comment