8 Tips Untuk Istri Agar Suami Tenang Bekerja

Friday, May 26, 2017

#nutsonduty

Beberapa waktu lalu saya diundang sebagai pembicara untuk acara Penguatan Integritas Istri Pejabat dan Pegawai KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok, dengan topik "Istri Bersahaja, Suami Tenang Bekerja". Tim panitia yang diwakili oleh Mbak Umma mengatakan profil saya cocok untuk membahas topik tersebut, terlebih karena saya dikenal setelah konten viral "Istri Direktur" dengan ciri khas #SuperAffordableStyle :) 

Suami penasaran saya ngomong apa saja di sana. Setelah saya ceritakan, suami mendorong saya untuk menuangkan materi bicara saya tersebut ke dalam tulisan di blog, supaya bisa mencerahkan istri-istri lainnya :D Karena belum sempat, sudah beberapa kali ditagih nih :p Jadi, berikut inilah tulisannya ya... sekaligus dipersembahkan sebagai kado ulang tahun pernikahan kami akhir pekan lalu deh :) 



Ada 8 tips yang sudah saya praktekkan sendiri, dengan segala jatuh bangunnya. Apa yang saya tulis di bawah ini lebih detail dibanding pada saat saya berbicara, karena keterbatasan waktu. Supaya nggak terkesan "ah, cuma teori!", saya berikan juga beberapa contoh nyata. 

Berikut ini adalah 8 tips untuk para istri agar suami tenang bekerja. 

  1. Suami adalah pemimpin, istri adalah penolong

    Ini adalah tips dan prinsip yang utama bagi saya dalam berkeluarga. Bahwa suami ditakdirkan untuk memimpin keluarga, dan istri yang baik berperan sebagai penolongnya. Ketika suami mendapat godaan untuk melakukan suatu kesalahan, istri menolongnya dengan cara tak lelah untuk mengingatkannya. Ketika suami tidak mampu menjalankan perannya, istri menolong untuk menopangnya, sampai suami bisa kembali memenuhi tugas dan kewajibannya.
    Contoh nyataDi awal pernikahan, suami pernah bekerja tanpa digaji selama 6 bulan berturut-turut. Padahal kami baru saja melahirkan anak pertama, dan membeli rumah dengan cara kredit di bank. Saya mengambil alih peran sebagai pencari nafkah keluarga, sampai ia mampu mendapatkan pekerjaan lain dengan penghasilan yang layak. Gaji saya setiap bulan sebagai sekretaris di perusahaan minyak habis dalam sekejap untuk membayar cicilan rumah yang jumlahnya lebih dari setengah gaji saya waktu itu, beli susu, popok, bayar gaji pembantu (yang literally punya lebih banyak uang daripada saya), uang transport, makan, biaya ke dokter... Pernah menangis di depan rumah sakit melihat taksi berbaris karena uang saya habis buat bayar imunisasi dan nggak cukup buat pulang naik taksi, jadi harus gendong bayi di siang bolong naik angkot dan jalan kaki sampai rumah.. . Waktu itu saya nggak cerita apa2 ke suami karena tau dia juga pasti tertekan dengan kondisi itu.  Saya cuma kirim pesan singkat ke dia: "Kita nggak bisa  begini terus..."  




    Thank 
    Another blog post brought up by FB Memory... still worth to share. Pic by @sweet.escape on our holiday in Kyoto last year. Pegadaian I dont go to office everyday; perhaps only twice a week or less. Thus when I do, I embrace conversation with hubby along our way. Like last Monday. We were giggling as we passed by Pegadaian, remembering those hard days when we were out of money and I have to mortgage a set of gold jewelry given by my mom in law as a present for delivering her first grand daughter, to meet ends. The next 2 months I had to sell that heart-shaped box of jewelry set worth 6mio at that time, to pay credit card that we used to buy milk, diapers, pay loans, insurance, maid’s salary, etc. I remember at that time my maid literally has much more money than I had. We just had a newborn baby and took credit from bank to buy a house. My hubby didn’t get salary for 6 months working in a startup recommended by.. forget it. Crazy silly days. I didn’t share the problem with anyone else. I thought it’s gonna be our forever secret. Until one day as he became a speaker for an event held by Gramedia, in front of 300 audiences he revealed: “Saya pernah kerja 6 bulan nggak digaji sama sekali. Padahal baru punya anak pertama. Istri saya yang menafkahi keluarga.” πŸ˜±πŸ™Š And the other day, his partner who’s also my friend asked him in front of me: “Nat, Nuniek matre nggak?” He retold the story above and added, “Kalo matre dia gak bakal kawin sama gue, gaji gue waktu married gak sampe setengah gaji dia.” πŸ˜‚ Financial problem is one of top 3 causes of divorce, as many research show. So if you’re marrying someone because of his/her money, I suppose you are prepared for a divorce once s/he is broke. Unless you have an evilish plan: marry to rob your partner’s money. Speaking of which, that wouldn’t make your life easy, leave alone happy. Original post: http://post.nuniek.com/post/45831330717/pegadaian #nutsays #nutsblog #nutslyfe #nutslove
    Sebuah kiriman dibagikan oleh Nuniek Tirta (@nuniektirta) pada


    Mama saya juga telah memberikan contoh teladan menjadi istri sebagai penolong suami, ceritanya pernah saya bagi di instagram post yang ini:      

       
    ➡️My story, lanjutan post sebelum ini ➡️ Alm. papaku juga pernah di PHK, karena restoran Jepang tempat beliau kerja tutup akibat bangkrut. ⏩ Waktu itu sekitar tahun 1990-1991, kakakku @rinakusuma_nayzay baru saja lulus SD dan mau masuk SMP. ⏩ Tidak ada pesangon yg memadai, jadi mama harus putar otak untuk membantu keuangan keluarga. ⏩ Konon, pernah uang belanja tinggal 60rb, harus beli sepatu wajib sekolah kk warna hitam 40rb. ⏩ Mama adalah ibu rumah tangga sejati. Tidak pernah kerja kantoran, tapi di rumah  tetap menghasilkan. ⏩ Mama buka toko kelontong di rumah, jualan apa saja dari permen sampai minyak tanah. ⏩ Sejak papa di-PHK itu, mama nambah varian jualan baru: kerupuk gendar yg dititip ke warung2 yg lebih besar. ⏩ Aku dan kk bertugas bawain kerupuk ke warung2 tersebut dan mengambil uang hasil jualan hari itu. ⏩ Uang hasil jualan itu yang menolong perekonomian keluarga kami saat papa masih  berusaha mencari pekerjaan kembali. ⏩ Kadang ketawa sendiri kalau ingat dulu aku sering malas2an melayani pembeli, habis lagi enak2 makan disuruh nuangin minyak tanah πŸ˜‚ ⏩ Padahal tanpa jualan, mungkin saja kakakku hanya tamatan SD dan aku bahkan tidak lulus SD... Adikku malah nggak lulus TK? ⏩ Siapa sangka, sekarang kakakku sudah menamatkan S2 di Inggris hasil beasiswa. Dan aku pun tengah menyelesaikan S2 di Jakarta. Adikku juga sarjana dan sudah bekerja di televisi swasta. ⏩ Kira2 setahun setelah di PHK papa baru dapat kerja lagi. Papa langsung memeluk mama dan anak2nya ketika pulang membawa kabar baik itu. ⏩ Tanpa disadari papa mama telah memberi contoh nyata, bahwa suami adalah kepala keluarga, istri adalah penolongnya. ⏩ Thank you so much untuk semua pengorbanan papa mama, kasihmu sungguh tak terhingga πŸ™πŸΌ ⏩ Singapura, 16 April 2017 Nuniek Tirta ~tissue mana tissue~ #nutstory #nutslyfe #nuniektirta
    Sebuah kiriman dibagikan oleh Nuniek Tirta (@nuniektirta) pada
  2. Manage expectation 
    Sebenarnya ini berlaku nggak hanya dalam hubungan dengan pasangan saja, tapi juga untuk segala hal dalam kehidupan. Harapan lebih tinggi dari kenyataan = kekecewaan. Kenyataan lebih tinggi dari harapan = kebahagiaan. Tapi harap bedakan antara harapan dengan mimpi ya. Kalau mimpi sih harus setinggi langit, coz sky is the limit. 
    Saya baru mengerti konsep mengelola ekspektasi ini dari Becky Tumewu, saat kami ditanya tentang apa harapan kami terhadap pasangan, oleh Pak Hermawan Kartajaya.

    Contoh nyataDulu saya sering kecewa karena mengharapkan suami bisa lebih romantis. Masa istri ulang tahun nggak pernah dikasih kado sama sekali (Setelah 10 tahun nikah baru ngasih kado, akhirnya!) Terus istri seharian ke mana aja nggak pernah ditanyain, nggak pernah ditelponin. Sampai teman saya yang jalan sama saya seharian, jam 11 malam bilang, "Eh iya loh gak ditanyain suami sama sekali, kok bisa sih?" Belakangan saya belajar, kita nggak bisa mengubah orang lain kalau dia sendiri nggak mau berubah. Jadi daripada kecewa terus, saya menurunkan standar ekspektasi saja. Saya juga belajar memahami kebiasaan suami melalui analisa pohon keluarga. Tentang manage expectation ini sudah pernah saya bahas di vlog, bisa ditonton lagi di sini:




  3. Choose your response

    Sebagai manusia, wajar sekali jika kita sering kali tergoda untuk bereaksi atas suatu aksi. Padahal, bereaksi bukanlah pilihan bijak. Yang terbaik adalah ketika kita merespons, bukan bereaksi. Sebab reaksi hanyalah reflek terhadap suatu aksi. Sedangkan dalam kata respons, terdapat suatu responsibility. Artinya, kita bertindak sesuai tanggung jawab. There's RESPONSIBILITY in the word RESPONSE, while there's only REPEATING ACTION in REACTION. And it makes a total difference.
    Contoh nyataKetika suami mendapat tekanan untuk membatalkan rencana perjalanan kami ke Santorini hanya beberapa hari menjelang waktu keberangkatan (setelah 9 bulan direncanakan dengan matang), saya hanya bilang: "Yaudah kalau memang belum bisa berangkat gpp ditunda dulu, nanti Senin aku coba urus ganti tanggal pesawatnya semoga masih bisa." FYI, berangkatnya Rabu. Nggak sedih? Ya sedihlah pasti. But I chose to response (keep calm and support husband) instead of  giving reaction (nangis/marah/ngambek/etc. yang bikin suami tambah terbebani). Suami waktu itu lebih bete, saya masih bisa puk2 dia. Saya mengerti bahwa pembatalan itu bukan kehendaknya dan penyebabnya ada di luar kuasanya, jadi ya ikhlaskan saja. Ceritanya bisa dibaca di sini: Santorini Dream.  


  4. Keep up!
    Always update anda upgrade. Don't let the gap keeps you apart. Teruslah berusaha menjadi pasangan yang sepadan, sebagaimana Tuhan juga bersabda: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18) 

    Contoh nyataDulu saya pernah terlena dengan sindrom "keluarga kecil bahagia sejahtera" sampai merasa tidak perlu berinteraksi banyak dengan dunia luar. Tanpa disadari, dalam hal aktualisasi diri suami sudah berada di level 8, sedangkan saya ketinggalan jauh di level 4. Bahayanya adalah ketika ngobrol mulai nggak nyambung sementara di luaran sana banyak orang yang lebih nyambung untuk diajak bicara karena selevel. Maka saya bangkit dan mengejar ketertinggalan itu dan membangun kembali personal branding yang sempat tenggelam. Jadi kalau dulu orang taunya saya cuma "istrinya Natali", sekarang orang2 tau kami sama2 aktif di dunia startup dan membangun komunitas #Startuplokal. Kisah selengkapnya sudah pernah saya tulis, bisa dibaca lagi di sini: Women are like cars?  
     
  5. Add value 
    Tambahkan nilai, jangan tambahkan beban. Kalau bisa, dengan kemampuan dan keberadaan kita, itu menambah nilai lebih bagi pasangan. Pernah dengar quote dari Brigham Young: "You educate a man, you educate a man. You educate a woman, you educate a generation"? 

    Contoh nyata
    Sejak saya kuliah pascasarjana jurusan psikologi konseling, suami jadi ikut belajar juga. Tiap antar jemput saya ke kampus, dia selalu tanya belajar apa saja hari itu. Saya jadi ada kesempatan mengulang kembali pelajaran yang saya dapatkan, dan suami jadi ada kesempatan menambah ilmu baru. Pernah saya ajak suami sit in di kelas atas undangan dosen Skill Konseling, karena hari itu kami membahas tentang metode MBTI yang bagus digunakan untuk memahami pasangan. Ternyata suami antusias sekali dan malah catatannya lebih lengkap dari catatan saya dan teman-teman, hehe. Nggak hanya itu, suami juga menyarankan HRD Tiket.com untuk menggunakan metode tersebut guna memahami karakteristik calon karyawan. Jadi setiap pelamar yang datang untuk interview diminta untuk mengisi tes MBTI tersebut.

  6. Listen more
    Listen, not only hear. Kita semua tahu bahwa manusia diberikan 2 telinga dan hanya 1 mulut agar kita bisa lebih banyak mendengar daripada berbicara. Tapi pada prakteknya memang nggak gampang buat kita bisa lebih mendengar untuk menyimak daripada sekedar mendengar untuk menimpali pembicaraan. Apalagi terkadang, kita juga harus bisa menyimak apa yang tersirat. Seperti halnya wanita ingin dimengerti, pria pun ingin dipahami.

    Contoh nyata  
    Saya dan suami punya ritual #pacaranmingguini yang diusahakan rutin setidaknya seminggu sekali. Biasanya kami makan malam berdua saja, dilanjutkan dengan nonton bareng. Persis orang pacaran deh. Ketika ada hal-hal yang mengganjal, kami menggunakan metode BPS: Bagaimana Perasaan Saya. Dengan metode ini, kalau suami sedang BPS maka saya wajib mendengarkan dan tidak boleh memotong pembicaraan sampai dia benar-benar selesai, begitupun sebaliknya. Kalimat yang digunakan saat BPS pun dipilih yang asertif dan tidak menyerang. Contoh kalimat asertif: "Aku tuh sebenernya sedih lho kalau kamu ambil keputusan besar sendiri tanpa tanya pendapatku dulu. Aku merasa kurang dihargai gitu." Contoh kalimat negatif atau kurang asertif: "Kamu tuh kenapa sih nggak tanya pendapatku dulu, main ambil keputusan besar sendiri. Nggak menghargai aku banget deh." Kalo k alimatnya asertif, biasanya pasangan akan lebih mudah mendengarkan. 
    Tapi asli, melaksanakan poin ini sejujurnya memang nggak semudah teori. Butuh latihan seumur hidup buat menerapkannya, hehe.  

  7. Demand less
    Terkadang atau bahkan seringkali, istri nggak pernah tau masalah apa saja yang dihadapi suami di kantor. Suami juga mungkin enggan cerita karena nggak mau menambah beban pikiran istri. So the least we can do as a wife is to demand less. Minimal, istri WAJIB tau apa saja jobdesc suami. Misal, jobdesc suami adalah tukang jaga server. Kan dia sendiri juga nggak pernah tau kapan server itu down, mau hari kerja apa hari libur, mau siang bolong atau tengah malam. Kalau sifatnya mendesak, suami harus siap handle kapanpun di manapun. Istri juga harus siap support suami, karena toh itu juga bukan kemauan dia untuk bertugas di luar hari dan jam kerja. 
    Contoh nyata
    Sebagai salah satu pimpinan perusahaan, apalagi memimpin divisi teknologi di perusahaan berbasis teknologi, suami punya tekanan besar dalam menjalankan pekerjaannya. Kalau dulu waktu awal menikah dan dia masih berstatus karyawan  saya sering menuntutnya untuk pulang tepat waktu, sekarang tidak pernah lagi. Bahkan terkadang saya menemaninya lembur di kantor, terutama masa-masa mulai dibukanya penjualan tiket kereta api mudik. Saat liburan pun, suami harus siap siaga. Waktu liburan di Maldives, anak pertama kami sempat protes karena daddynya sibuk dengan HPnya saat makan siang. Kejadian terakhir, saat suami beli TV OLED terbaru, anak pertama kami yang kritis itu protes lagi, katanya: "pasti buat main game lagi!" Saya jelaskan, setiap orang harus punya stress release biar tetap waras. Daddy kerja di kantor sudah berat, pulang ke rumah waktunya habis buat keluarga, hampir nggak pernah ada waktu buat diri sendiri. Jadi kalo daddy main game nggak apa-apa, itu buat me-time-nya. Kita bersyukur hobby daddy cuma main game di rumah, aman dan murah. Teman-teman mommy daddy ada yang hobbynya main mobil mahal (dan bukan mobil2an :p), ada yang hobbynya main golf sampai malas pulang ke rumah (padahal habis dinas ke luar negeri berhari-hari), ada yang hobbynya dugem sama... Jadi kalo daddy hobbynya cuma main game di rumah, ya bersyukurlah! :)


  8. Be grateful
    Jangan lupa bersyukur! Berapapun jumlahnya rejeki yang diberi Tuhan melalui keringat suami, wajib disyukuri. Bukankah Tuhan akan menambahkan rejeki bagi orang-orang yang bersyukur? Besides, I've learnt the hard way, that the journey to find peace of mind starts with gratitude, followed by self-awareness and acceptance. Untuk poin be grateful ini saya nggak perlu kasih contoh nyata lah ya, tapi saya punya ilustrasi yang "dalem banget" di bawah ini... 


    When was the last time you said thank you to your husband?

    Yuk yang sudah dan masih pada punya suami, pulang nanti suaminya dipeluk yaaa... :)

    Jakarta, May 2017
    Nuniek Tirta Ardianto



You Might Also Like

6 comments

Subscribe