Bagaimana Cara Membagi Waktu?

Sunday, January 28, 2018

Minggu lalu saya diwawancara untuk sebuah artikel berjudul Nuniek Tirta: angel investor, founder of Startuplokal, mother, and wife yang diterbitkan oleh ANGIN (Angel Investment Network Indonesia). Kebetulan saya baru saja bergabung menjadi angel investor ke-60 sekaligus investor wanita ke-30. 

Pertanyaan pertama, saya diminta untuk bercerita tentang siapa saya. Pertanyaan kedua, dan ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima: bagaimana cara saya membagi waktu sebagai seorang entrepreneur, angel investor, ibu dan istri. 

Photo by Sweet Escape

Jawaban singkatnya dapat dibaca pada artikel tersebut. Namun pada blog ini, saya ingin menguraikan jawaban yang lebih komprehensif. Jadi nanti kalau ada yang menanyakan pertanyaan sama lagi, saya bisa tinggal kasih url postingan ini saja, hehehe. 

Ini adalah prinsip saya dalam membagi waktu, berikut contoh konkritnya: 

Know your priority

Ini adalah prinsip utama dalam membagi waktu: pahami dulu apa prioritasmu. 

Contoh: di antara peran sebagai entrepreneur, angel investor, ibu dan istri, blogger dan influencer, konsultan dan advisor, plus mahasiswi S2 pula, prioritas utama saya adalah sebagai seorang istri. Mengapa? Sebab itu adalah perintah Tuhan :) Maka, saya mengutamakan tugas saya sebagai istri di atas tugas-tugas lainnya. Misalnya ketika suami meminta saya menemaninya tugas ke luar kota, maka saya akan memberi pengertian kepada anak-anak bahwa kami akan pergi selama beberapa hari. Biasanya saya juga memberitahukan mama atau mertua yang tinggal dekat rumah supaya bisa ikut memantau. Tugas rumah tangga didelegasikan kepada asisten rumah tangga, tugas administrasi didelegasikan kepada personal asisten saya. Prioritas sebagai istri ini menurut saya sangat penting, sebab ketika hubungan saya dengan suami baik, maka hubungan dengan anak-anak pun baik. Jadi bagi yang masih punya suami, meskipun sudah menjadi ibu, jangan lupa jadi istri yaa (bisa jadi bahan tulisan selanjutnya nih :)). 

Focus on your goal

Fokus pada tujuan yang ingin dicapai. 

Contoh: hampir setiap hari saya selalu mendapat undangan acara, pertemuan, meeting atau sekedar ngobrol. Jika tidak fokus pada tujuan yang ingin dicapai, bisa-bisa waktu saya habis hanya untuk memenuhi semua permintaan tersebut. Jadi, sebelum mengiyakan sebuah permintaan, saya selalu bertanya pada diri sendiri: apa yang ingin saya capai dari hal tersebut? Biasanya ketika diundang ke sebuah acara, ada 3 pertimbangan dasar yang saya pakai. Pertama: apakah topiknya menarik dan relevan untuk saya ketahui. Jika tidak, maka pertimbangan kedua adalah: apakah networknya menarik (entah itu pembicaranya atau audiensnya). Jika tidak juga, maka pertimbangan ketiga (dan ini adalah koentji): siapa yang mengundang. Jika yang mengundang adalah orang yang saya segani/hormati, maka sebisa mungkin saya usahakan datang. Tujuan saya apa? Untuk menjaga hubungan baik, tentu saja.


Delegate your weakness

Delegasikan kelemahanmu. Alias, limpahtugaskan hal yang saya kurang jago atau ngga suka.

Contoh: saat nggak ada pembantu, tugas rumah tangga yang paling saya nggak suka adalah urusan baju kotor. Maka saya delegasikan saja tugas itu kepada laundry kiloan, hehehe. Jadi saya bisa alihkan tenaga untuk masak dan beberes rumah. Sedangkan untuk urusan pekerjaan, tugas yang paling saya tidak suka adalah yang berkaitan dengan printilan administrasi, akuntantsi dan pajak. Maka saya mendelegasikan tugas itu kepada personal asisten saya. Jadi saya bisa fokus kepada hal yang saya kuasai dengan baik, seperti menyusun rencana strategis dan menulis. Dalam hal mendidik anak, saya paling seneng ngajak mereka ngobrol, tapi sering nggak sabaran kalau ngajarin mereka belajar (apalagi matematika!). Maka saya sering minta tolong partisipasi suami untuk mengajar mereka (karena suami lebih sabar, hehehe). 

Be present, be at the moment

Ini bahasa Indonesianya yang tepat apa ya? Hadir di sini, saat ini? Ya gitu deh maksudnya :))

Contoh: sebagai konsultan dan advisor, klien membayar saya per jam. Misalnya 12 jam dalam sebulan, yang dibagi dalam 3 jam tatap muka dalam seminggu. Maka selama 3 jam itu saya akan fokus hadir di sana, saat itu. Artinya, saya tidak akan mengecek handphone selama tatap muka tersebut, supaya tidak terdistraksi dan saya bisa fokus pada klien sepenuhnya. Sedangkan dalam keluarga, ada golden rules ketika sedang berada di meja makan, yaitu: no gadgets. Boleh pakai HP hanya untuk foto makanan saja, tapi tidak boleh diposting saat itu juga. Jadi kita bisa fokus ngobrol saat makan sekeluarga. Kecuali untuk saat-saat tertentu ya, misalnya ketika diundang liburan atau makan di suatu tempat, sudah pasti yang ngundang mengharapkan saya untuk bisa share di sosmed. Ya kan kita memang dibayar untuk pamer, huehehehehe. 

Listen to your body alarm

Dengarkan alarm tubuhmu.

Contoh: sejak suami melepaskan jabatan di perusahaan yang didirikannya akhir bulan lalu, bukannya jadi santai kami berdua malah semakin sibuk. Bayangin, ini sudah akhir bulan tapi belum sehari pun kami ada istirahat total di rumah. Setiap hari selalu ada 2-5 agenda: mulai dari meeting, acara, sampai urus beberapa bisnis seperti investasi startup dan properti. Bahkan untuk merawat diri pun yang tadinya bisa seminggu sekali kalau mau, sekarang cuma bisa di akhir bulan aja saking padatnya. Dalam bulan Januari ini kami sudah ke Yogya, Malang, besok ke Bandung, dan akhir pekan ini ke Hawaii. Fiuh! 

Kebiasaan buruk kalau aktivitas sedang padat-padatnya itu seringnya saya jadi suka lupa minum. Akibatnya bisa ditebak: panas dalam deh. Biasanya kalau udah begitu, saya selalu menangkal dengan minuman andalan yang memang #ahlinyapanasdalam . Yesss, apa lagi kalau bukan Larutan Cap Kaki Tiga, ya kaaan. Soalnya sudah sering saya buktiin sendiri, minuman ini bisa mencegah dan mengobati panas dalam, radang tenggorokan, sariawan, dan membantu menyegarkan tubuh. Nggak heran kalau larutan ini dipercaya sebagai ahlinya panas dalam secara turun temurun, karena sudah menemani keluarga Indonesia selama 80 tahun. Jelas dong Larutan Cap Kaki Tiga ini benar-benar #pilihanbenar untuk ahlinya panas dalam :) Btw, saya paling suka yang rasa leci. Kamu suka rasa apa?



Manage energy

Mengatur energi. 

Kebanyakan orang hanya terpaku pada pengaturan waktu, tapi bingung kok bisa sih si A melakukan jauh lebih banyak hal daripada saya? Padahal setiap orang diberi Tuhan waktu sama banyaknya lho: 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Bisa jadi, yang salah bukan soal pengaturan waktunya, tapi soal pengaturan energinya. 

Contoh: in between meetings, biasanya saya meluangkan waktu me-time sejenak entah sekedar mojok di cafe atau mendengarkan musik, untuk recharge energi sebelum lanjut ke meeting selanjutnya. Saya juga sadar bahwa fisik saya lebih aktif di siang hari, tapi otak saya jauh lebih kreatif saat malam hari. Maka biasanya kegiatan kreatif yang tidak melibatkan fisik tapi melibatkan otak dan pikiran, saya lakukan pada malam hari. Seperti saat menulis postingan ini, saya mulai tengah malam tadi, dan sekarang... astaga, sudah jam 5 pagi! Yuk bobo dulu yaaa :D 

Cheers,
Nuniek Tirta

You Might Also Like

7 comments

Subscribe