Tuesday, February 16, 2016

[gallery]

Ketakutan Terbesar Dalam Hidupku

Sabtu sore lalu di sesi konseling
kelompok yang rutin diadakan oleh teman-teman sekelas di kampus, kami membahas
tema: Ketakutan Terbesar Dalam Hidupku. 

Satu persatu teman mulai membagikan
perasaan ketakutan terbesar dalam hidupnya. Sejak awal sharing session, saya
berpikir keras apa yang menjadi ketakutan terbesar dalam hidup
saya. Kebetulan, saya dapat giliran terakhir. Namun hingga giliran saya tiba,
saya tidak dapat menemukan apa yang menjadi ketakutan terbesar dalam hidup saya
saat ini

Saya hanya dapat menjawab seperti
ini… 

Duluu, saya takuuuuttt banget
melahirkan. Saking takutnya, tiap kali ada teman/saudara yang baru melahirkan,
saya nggak mau jenguk karena takut dengar cerita tentang proses melahirkannya. Pernah
sekali ramai2 jenguk teman sesama blogger yang baru melahirkan saat saya baru
jadian sama suami tahun 2003 lalu. Begitu mulai cerita2 horror itu, saya
langsung tutup kuping dan berlalu. Sama halnya ketika saya melihat adegan film
tentang melahirkan, pasti tutup mata.

Sekarang? Anak kandung saya ada dua.
Yang pertama proses melahirkan normal padahal beratnya 3,75kg. Yang kedua
proses melahirkan terpaksa caesar meski beratnya hanya 3,1kg, karena sudah
sungsang terlilit tali pusat pula. Kata dokter kalau jaman dulu kasus seperti
itu yang bikin angka kematian tinggi saat melahirkan, karena kalau nggak ibunya
ya anaknya yang nggak bisa bertahan alias mati.

Persis kata rekan saya Bu Dwi, bahwa rasa
takut harus dihadapi, ditaklukkan
. Dan ketika saya berhasil menaklukkan ketakutan
terbesar dalam hidup, rasanya bebas luar biasa. Saya jadi berani pasang kawat
gigi setelah menunda selama 7 tahun, dan berani melakukan tindakan lasik untuk
kedua mata saya setelah berpikir selama 4 tahun. Sebab saya pikir toh kesakitan
terbesar sudah pernah saya alami dan saya tidak mati, apalagi yang ditakuti?

Nah, menyambung soal kematian.

Kematian adalah satu hal yang pasti
dialami, namun kebanyakan orang takut mati. Saya pun dulu begitu, ketika belum
lahir baru. Setelah mengalami kelahiran kembali, saya diperbarui dan merasa sangat
dekat dengan Sang Pencipta, sehingga tidak lagi merasa takut jika waktu saya
telah tiba untuk menghadap kepada-Nya. Saya bahkan telah merancang dan memberitahukan
kepada pasangan tentang prosesi yang saya inginkan untuk melepas kepergian saya
dari dunia ini nanti.

Ketika mati, saya ingin…          

·        
Dikremasi, lalu abunya ditabur ke laut.
Saat ditanya di laut mana, saya
jawab yang dekat saja, Marina Ancol. Kalau mau yang jauh sekalian di Santorini
juga boleh =) Yang jelas saya tidak mau dikubur di dalam tanah. Saya ingin jiwa
raga saya tetap bisa merasakan kehangatan sunrise dan sunset di lautan bahkan
setelah saya mati, meski itu mustahil secara teori.

·        
Pada umumnya orang menginginkan sebanyak-banyaknya pelawat yang datang dan
mengantarkan jasadnya setelah mati, sebagai simbol berapa banyak amal kebaikan
selama hidupnya. Tapi coba perhatikan lagi, apakah dari sekian banyak yang
melayat itu semua benar-benar tulus mendoakan kepergian yang meninggal? Tak
jarang ketika melayat, saya mendengar beberapa pelayat justru menggosip. Tidak,
saya tidak butuh orang-orang seperti mereka pada hari kematian saya, hanya demi
menambah jumlah pelayat agar dapat dilihat sebagai orang yang punya banyak amal
baik. Lebih baik sedikit tapi tulus dibanding banyak tapi palsu. Quality over quantity! 

·        
Memorial Service is a
must! You may loose my body, but not my life story. It could be that my story
is my legacy.
Saya ingin setelah mati, cerita dan pelajaran hidup yang dapat diambil
semasa saya masih ada bisa tetap menjadi berkat dan menginspirasi orang lain,
dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk tulisan ini. Bisa dalam bentuk karya
lain. Bisa dalam bentuk kenangan. Apapun itu, selama berguna bagi orang lain. Saya
ingin yang hadir dapat berbagi dan bercerita apa yang mereka pelajari dari
saya. 

Baca di sini tentang perbedaan Funeral
dengan Memorial Service: http://www.funeralplan.com/funeralplan/about/funmem.html

Baca di sini tentang
langkah-langkah merencanakan Memorial
Service
:

http://www.wikihow.com/Plan-a-Memorial-Service


·        
Music playlist for my
memorial service
(in alphabetical order) : 

1.    Air on G String - Sebastian Bach

2.    Amazing Grace

3.    Auld Lang Syne

4.    Be Still My Soul 

5.    Blessings – Laura Story

6.    Con Te Partiro / Time To Say Goodbye

7.    God Can Do – Mike Mohede

8.    It Is Well (With My Soul)

9.    Somewhere Over The Rainbow

10.  You Are My Hiding Place – JPCC Worship

Anyway, ketika saya tanyakan kepada suami, apa ketakutan terbesar dalam hidupnya saat ini, jawabannya juga tidak ada. Tapi kalau pertanyaannya diubah menjadi Kekhawatiran Terbesar Dalam Hidupku,
baru deh saya punya jawabannya… panjang! Nanti saya uraikan di tulisan lain ya =)

Sekarang, apa ketakutan terbesar dalam hidupmu?

You Might Also Like

0 comments

Subscribe