February 20103 min read

A Note To My Valentine

Mudah merasa suka, tidak sulit merasa sayang, namun sangat tidak mudah untuk jatuh cinta. Itulah saya. Saya sangat menjaga hati untuk tidak jatuh cinta kepada sembarang orang. Karena begitu jatuh cinta, saya akan total menjalaninya, dan tak akan mudah untuk melepaskannya.

Saya punya kriteria yang unik untuk menjadikan seseorang sebagai pria idaman : anak pertama, pintar, dewasa. Mengapa harus anak pertama? Karena biasanya memiliki jiwa pemimpin yg lebih kuat. Begitu memiliki adik, ia sudah terkondisikan untuk menjadi pemimpin, setidaknya bagi adiknya. Mengapa harus pintar? Karena keindahan fisik pasti pudar seiring berjalannya masa, namun kecemerlangan pikiran tak lekang oleh waktu. Lalu mengapa harus dewasa? Kedewasaan membuat seseorang mampu memecahkan masalah dengan lebih arif dan bijaksana. Itu saja.

10 tahun lalu, saya sempat ragu. Apakah bisa menemukan pria persis sesuai kriteria, yang juga mencintai saya? Beberapa pria mendekati, datang silih berganti. Ada yang terang2an menyatakan cinta, ada yang bilang suka, ada pula yang mengaku hanya bisa mengagumi. Tentu, tidak semuanya masuk kriteria. Hanya beberapa yang memenuhinya. Ada yang anak pertama, tapi tidak pintar dan dewasa. Ada yang anak pertama dan pintar, tapi tidak dewasa. Ada pula yang anak pertama dan dewasa, tapi kurang pintar. Wah, repot juga ya…

Tahun 2002, saya mengenal seseorang melalui blognya. Nama yang cukup popular di kalangan netter kala itu. Yang saya tau, ia pintar, dan anak pertama. Soal dewasa, saya belum bisa menilai. Kami bertemu di dunia nyata pada acara kumpul2 blogger di sebuah mall. Kala itu, saya membatin dalam hati: pria ini begitu sempurna. He got face, he got brain, he got personality, he got attitude… Ia memiliki hampir segalanya! Sayang, ia tidak memiliki saya, hahaha… Oke, yg terakhir itu becanda ya. Tapi jujur, saya iri dengan pacarnya yang menemani saat itu.

Setahun kemudian kami dipertemukan kembali pada acara gathering nasional Blogbugs, komunitas blogger Indonesia terbesar masa itu. Posisi saya sebagai ketua panitia, dan ia sebagai sie transportasi, memberikan kami kesempatan untuk lebih dekat. Kebetulan, saat itu kami sama2 sedang tidak menjalin ikatan dengan siapapun. Pucuk di cinta ulam pun tiba, kami saling jatuh cinta. Singkat cerita, kami jadian pada tahun yang sama.

Tiga tahun masa berpacaran, kami rasa cukup untuk melangkah ke jenjang selanjutnya: pernikahan. Suatu ikatan sakral dengan janji di hadapan Tuhan, untuk selalu setia, sehidup semati, dalam suka maupun duka. Saya tak menyangka, akhirnya bisa menikah dengan pria idaman yang memenuhi semua kriteria saya, dan juga mencintai saya apa adanya. Kini kami telah diberkati dengan 2 orang putri, dan berusaha sekuat hati untuk menjaga pernikahan ini tetap abadi…

Indonesia, 11 February 2010
Originally written by Nuniek Tirta Sari
*Dedicated to my lovely Natali Ardianto*

PreWed by King