Citi Peduli dan Berkarya, Emil Dardak, dan Filantropi untuk Indonesia

Wednesday, November 23, 2016



Setelah tahun lalu diundang belajar investasi bersama Citi, tahun ini saya diundang lagi oleh Citi Indonesia untuk mengenal Citi Peka, lebih dari filantropi untuk Indonesia. Tapi sebelumnya, sudah tahu belum filantropi itu apa?

Filantropi adalah tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia serta nilai kemanusiaan, sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain. Istilah ini umumnya diberikan pada orang-orang yang memberikan banyak dana untuk amal. Biasanya, filantropi seorang kaya raya yang sering menyumbang untuk kaum miskin. (Wikipedia)

Saat diundang ke acara ini sebenarnya agenda utama saya ingin catch up dengan teman lama yang juga mengundang saya, Mbak Vera Makki yang kini menjabat sebagai Head Corporate Affairs Citi Indonesia, dan juga Mbak Ainun founder Akademi Berbagi.



Namun ternyata, dari event ini saya jadi lebih tahu banyak tentang...

Citi Peka (Peduli dan Berkarya)


Citi Peka ini adalah payung untuk seluruh kegiatan sosial kemasyarakatan Citi Indonesia yang didanai oleh Citi Foundation. Sejak 1998, Citi Peka fokus pada program pemberdayaan dan penghargaan terhadap pengusaha dan lembaga keuangan mikro; peningkatan kemampuan kewirausahaan muda; dan pembangunan kapasitas keuangan bagi anak usia sekolah, petani dan wanita di berbagai wilayah di Indonesia. Selama lebih dari 18 tahun, Citi Peka telah bermitra dengan lebih dari 56 organisasi untuk melaksanakan 34 program dengan kucuran dana lebih dari USD 10 juta yang menjangkau lebih dari 800.000 individu. Sesuai prinsipnya "Lebih dari Filantropi", Citi Peka melibatkan sekitar 90% karyawan Citi sebagai relawan dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.



Pada kesempatan hari itu, saya menyaksikan penyerahan dana hibah senilai USD 850.000 dari Citi Foundation kepada tiga organisasi nirlaba, yaitu UNESCO, Prestasi Junior Indonesia, dan Mercy Corps Indonesia. Nilai tersebut dimanfaatkan untuk mendukung implementasi program sosial kemasyarakatan periode 2016 - 2017 yang berfokus pada literasi keuangan, kesempatan ekonomi bagi generasi muda, serta pemberdayaan dan penghargaan terhadap pengusaha mikro dan institusi keuangan mikro. Proses penyerahan itu diresmikan oleh Ibu Kusumaningtuti S. Soetiono, Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bapak Batara Cianturi selaku CEO Citi Indonesia, Elvera N. Makki, Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia, dan Emil Elestianto Dardak, Bupati Trenggalek.


Emil Elestianto Dardak, Bupati Trenggalek 


Sebelumnya saya sama sekali tidak tau Emil Dardak itu siapa, sampai saat MC membacakan secara singkat resumenya yang mengagumkan: doktor ekonomi pembangunan termuda dari Ritsumeikan Asia Pacific University Jepang berkat beasiswa yang diterimanya di usia 22 tahun, menjadi kandidat bupati termuda pada pilkada serentak 2015 dan menang dengan perolehan suara lebih dari 76%.



Saya tersihir ketika menyimak pemaparan Bupati Trenggalek itu tentang pentingnya sinergi antara korporasi dengan pemerintah dalam memfasilitasi gerakan literasi keuangan dan entrepreneurship. Menurutnya, Citi Peka memiliki program yang komprehensif dan terintegrasi dengan hal-hal yang menjadi fokus pembangunan berkelanjutan di Indonesia saat ini.

Salah satu paparannya yang menarik perhatian saya adalah tentang peran koperasi dengan sistem tanggung renteng, alias social collective action yang bisa digunakan untuk menciptakan credit worthiness untuk usaha kecil. Kalau ada satu yang nggak bayar, maka koperasi itu wajib bayar semuanya. Sehingga anggota yang lain akan bertanggungjawab terhadap credit worthiness dari satu orang yang nggak bayar itu. Jadi ada rasa malu kalo nggak bayar alias ngemplang.



Saking terpesonanya saya sampai baru ingat untuk rekam melalui FB live pada akhir2 pemaparannya, bisa ditonton di sini ya.


UNESCO, Prestasi Junior Indonesia, Merci Corp


Ketiga nama di atas adalah penerima hibah Citi Peka tahun ini. Bersinergi dengan UNESCO, Citi Peka memusatkan kegiatan penguatan generasi muda di lokasi dengan nilai warisan budaya tinggi di lima titik Indonesia yaitu Danau Toba / Samosir, Borobudur, Prambanan, Klaten, dan Yogyakarta. Menggandeng Prestasi Junior Indonesia, Citi Peka menjalankan program 'Agen Penny' dan 'Student Company' untuk memperkenalkan sejak dini konsep keuangan kepada anak-anak dan siswa SMA. Sedangkan bersama Merci Corp, Citi Peka berkomitmen mendukung semangat kewirausahaan dengan melanjutkan program tahunan 'Citi Microentrepreneurship Awards' (CMA) serta program 'FEED Mobile' (Financial Education & Empowerment Goes Digital and Mobile) sebagai bentuk dukungan terhadap transformasi perkotaan. Nah CMA ini secara aktif memberikan penghargaan dengan beragam kategori. Kamu bisa daftar lho kalau memenuhi syarat-syaratnya, bisa lihat di sini.



Ohya sebelum acara dimulai, saya mampir ke booth mitra-mitra binaan Citi Peka. Mata saya langsung tertuju pada patung merak dan naga merah. Cantik-cantik sekali. Lebih kagum lagi begitu saya tahu kalau ternyata produk tersebut terbuat dari kaleng bekas! Saya sempat ngobrol dengan Pak Kusnodin, yang membuat kerajinan tangan tersebut. Ternyata usahanya tersebut telah melanglang buana dan disukai wisatawan mancanegara. Ia bahkan baru bisa benar-benar mengerjakan kerajinan itu pada malam hari, sebab siang hari selalu ada tamu yang berkunjung ke tempatnya. Pantas saja ketika saya googling namanya, sudah banyak sekali berita mengenai hasil karyanya. Ohya, saya langsung beli patung merak dan naga tersebut untuk kado buat investor dan CEO perusahaan suami.



Saya juga mampir ke booth PKBM Itaco yang didirikan oleh kawan baik saya Suzie. Ia adalah pendiri sekolah gratis untuk anak-anak pra-sejahtera, dan kebetulan juga apprentice komunitas #Startuplokal yang saya gagas bersama rekan-rekan. Kisah perjuangannya mendirikan sekolah tersebut secara mandiri sangat luar biasa, bagaimana ia memutar otak supaya siswa siswinya bisa meneruskan pendidikan agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Salah satu usahanya adalah dengan mendorong para siswa membuat hasil karya yang dapat dijual untuk membiayai operasional sekolahnya. Beberapa hasil karyanya dapat dilihat dan dipesan langsung di instagramnya @siswawirausaha.



Saya percaya, akan semakin banyak pengusaha kecil mandiri seperti Pak Kusnodin dan Suzie yang terbantu dengan adanya program Citi Peka ini. Lanjutkan, Mbak Vera dan Citi Indonesia!



You Might Also Like

1 comments

Subscribe