Prinsip 3 Topi dalam Parenting

Monday, September 19, 2016






Semalam, putri pertama kami (9,5 tahun) melakukan ritual bersih-bersih sebelum tidur: mencuci muka dengan sabun pembersih wajah, sikat gigi dan mengoleskan body lotion, etc.

Melihatnya, suami berkomentar: “Kok sekarang ritualnya banyak amat sih?”
Putri pertama kami spontan menjawab: “Ya namanya juga mau remaja”
Sontak suami dengan lebaynya merespon, “Huaaaaaaaa! Tidaaaaakkk!”

Dan kemudian dilanjutkan dengan, “Pantesan sekarang sudah nggak mau pegangan tangan sama daddy lagi. Maunya cuma pegang bahu. Sudah nggak mau dicium-cium lagi. Huaaaaaaa!”

Saya tertawa melihat suami yang kelabakan anaknya sudah mau remaja dan tingginya sedikiiiitt lagi sudah sama dengan mommynya.

Change along your kids changes

Ya, kita sebagai orangtua harus berubah seiring dengan perubahan
anak-anak kita. Ketika anak beranjak remaja, ia sudah tidak bisa lagi
diperlakukan seperti balita, misalnya.
Menurut Arun Gogna dalam
bukunya Lasting Gifts You Can Give Your Children, sebagai orangtua kita memakai
3 topi yang memainkan peranan berbeda sesuai tahap kehidupan anak.
Inilah prinsip 3 topi
dalam parenting menurut Arun Gogna
:

1.   Controller Hat (Topi Pengontrol)
Pada LOJConference
yang saya ikuti beberapa waktu lalu, Arun Gogna mendemonstrasikan topi
pengontrol ini bentuknya seperti safety helm warna kuning/oranye yang sering dipakai
tukang bangunan. Topi ini kita pakai saat anak berusia 0 – 10 tahun. Dengan menggunakan
topi pengontrol ini, peran kita sebagai orangtua adalah mengontrol anak apa
yang harus, boleh, dan tidak boleh dilakukan. Pada periode ini, merupakan
tanggungjawab kita untuk memberi batasan kepada mereka agar mereka terhindar
dari hal-hal yang membahayakan. Kita juga dituntut untuk memberikan contoh
nyata, walk the talk. Kalau menyuruh anak gosok gigi sebelum tidur, ya kitanya
juga harus kasih contoh kalau kita sendiri gosok gigi sebelum tidur. Kalau menyuruh
anak bangun pagi, ya kitanya juga harus kasih contoh kalau kita sendiri bangun
pagi. Dan sebagainya.
2.   Coaching Hat (Topi Pelatih)
Topi pelatih ini bentuknya mirip topi pelatih
baseball. Topi ini dipakai ketika anak berusia remaja, 11 – 19 tahun. Ketika
memakai topi ini, kita tidak boleh lagi berada dalam “lapangan permainan”, tapi
harus berada di sisi lapangan, memantau mereka, hanya sesekali saja memanggil
mereka untuk memberikan arahan. Persis pelatih baseball lah. Pada masa ini,
anak tidak lagi membutuhkan informasi terlalu banyak dari orangtua; yang mereka
butuhkan adalah inspirasi. Jadi, kita harus menginspirasi mereka, dan tidak
lagi menginstruksi mereka. The main message of the Coach is: “I trust you to maket
he right decision.”

3.   Consultant Hat (Topi Konsultan)
Topi konsultan ini dipakai oleh orangtua ketika
anak-anak telah dewasa (20 tahun ke atas). Sebagai konsultan, orangtua
diharapkan memberikan masukan hanya
ketika diminta
. Masalahnya, menurut Arun Gogna, banyak orangtua yang tidak
rela melepaskan topi pelatih dan bahkan topi pengontrolnya, padahal sudah
saatnya mereka memakai topi konsultan karena anak mereka telah berusia dewasa.
Dan ini merupakan akar dari problem mertua – menantu pada umumnya. Yaitu ketika
orangtua masih menyuruh anak/menantu melakukan ini/itu, karena mereka masih
memakai topi pengontrol tadi. Saran dari Arun Gogna, apabila terjadi konflik
seperti itu, maka yang harus menghadapinya adalah anak kandung dari orangtua
tersebut.
Balik lagi ke cerita awal soal “kesedihan”
suami menghadapi anaknya yang sebentar lagi beranjak remaja, rasanya kita semua
sebagai orangtua juga akan/sedang/pernah mengalaminya. Mungkin kita tidak siap
melepaskan peran sebagai kontroller untuk menjadi pelatih lalu konsultan. Jujur
saja, sebagai orangtua kita pasti punya tendensi untuk mengontrol anak sesuai
keinginan kita. Di sinilah kita harus belajar, bahwa  To hold on is to let go. Know when to let go.”

You Might Also Like

3 comments

Subscribe