Why I Feel Fine Without Maid

Wednesday, January 06, 2016

Selama 25 tahun saya hidup tanpa pembantu. Sejak kecil, di keluarga saya semua tugas rumah tangga dikerjakan bersama-sama. Saya ingat waktu SD tugas saya tiap sore sebelum mandi adalah ngepel rumah. Upahnya 50 perak, yang biasanya saya pakai buat jajan wafer Superman. Kalau ditabung 2 hari, bisa beli Coklat Ayam :))

Setelah menikah, tetap nggak ada pembantu. Kami udah kayak main rumah-rumahan di rumah tante yang kebetulan udah nggak ditempatin. Pagi sebelum berangkat kerja bersama, saya buatin roti dan suami buatin minuman. Sorenya pulang bareng lagi, mampir dulu di warteg buat makan malem, tiap hari nyobain warteg di sepanjang jalan yang kita lewatin :D

Masih inget banget excitednya pulang cepet buat nobar serial Desperate Housewives di TV sambil nyetrika baju di sofabed. Karena nggak ada AC di ruang tamu, jadi pakai kipas angin butut yang bunyinya krek krek kreekk. Pas hamil naik 24kg, saking kepanasan jadi tiap malem ngemil es batu dan bebas mondar mandir gak pake baju *oh plis jangan dibayangin*

It was the funniest period of our marriage life :))

Setelah punya anak, baru deh saya ngerasain punya pembantu. Saya yang seumur-umur terbiasa beresin kamar sendiri, sempet takjub waktu balik dari kamar mandi tau2 kamar tidur udah rapi sendiri. Oh, jadi gini ya rasanya. Belum lagi sebagai ibu baru, si bayi sebentar2 diambil alih oleh ketiga pembantu yang ada di rumah mertua. Lha, saya jadi bingung ngapain.

Setelah pindah ke rumah sendiri dan nambah anak jadi dua, saya bukan cuma punya satu pembantu tapi sekaligus tiga. Satu untuk urus rumah tangga, dua untuk urus masing-masing bayi. Ditambah satu karyawan toko online yang saat itu saya jalani, plus satu sopir pribadi. Jadi anggota keluarga cuma empat orang tapi yang ngelayanin ada lima orang. Gaya pisan :p

Lalu ada masanya di mana saya nggak punya pembantu dan karyawan sama sekali. Jetlag pasti. Lha dari pertama punya anak udah dibantuin sama para dayang dayang, tiba2 harus urus semuanya sendiri. Mulailah saya play victim, mengasihani diri sendiri, merasa orang paling merana sedunia karena harus urus dua balita sambil tetap membantu perekonomian keluarga.

image

Setelah gonta ganti pembantu dalam beberapa tahun, saya baru menyadari satu hal: bahwa saya kembali dihadapkan pada persoalan yang sama karena saya belum benar-benar belajar. Ibarat ujian dapat nilai jelek, saya dikasih kesempatan untuk remedial, berulang-ulang sampai nilainya bagus.

Dan kunci jawaban itu saya dapatkan begitu saja ketika sedang menjemur pakaian sebelum menjemput anak-anak pulang sekolah sekitar 3 tahun lalu: ketika ada pembantu saya menjadi pemalas, dan ketika tidak ada pembantu saya menjadi pemarah. God doesn’t want me to be that way, so He gave me the same painful experience over and over again until I get it.

Mulailah saya menjalani apapun keadaan yang Tuhan berikan dengan rasa ikhlas, penuh penerimaan. Dari sana, langkah saya menjadi lebih ringan. Ada yang bantu syukur, nggak ada yang bantu juga nggak masalah. Justru karena nggak ada yang bantu, anak-anak malah lebih mandiri dan nggak bossy. Menyiapkan makan, keperluan sekolah, seragam, semua sudah bisa mereka lakukan sendiri. Mereka juga bisa berempati dengan menawarkan bantuan seperti menyikat kamar mandi. Bahkan sering juga bikinin masakan dan minuman buat mommy kalau sedang dikejar2 deadline tugas kuliah dan kerjaaan :) 

image

https://instagram.com/p/-OBTcquT4R/ 

Hampir setahun ini kami dibantu oleh mbak yang kerja maksimal 2 jam per harinya. Tugasnya melakukan pekerjaan rumah tangga yang saya kurang suka: cuci piring, nyapu-ngepel, dan setrika. Kalau saya harus ke kantor, dia datangnya pagi. Kalau saya nggak pergi, dia datang siang. Hari Minggu libur, dan kalau kami keluar kota dia juga diliburkan. Tugas-tugas lainnya kami lakukan bersama sekeluarga. Tapi selama Januari mbaknya saya minta cuti dulu karena mbak yang ngasuh si kakak dan si adik waktu bayi hari ini datang dari kampung, untuk kembali jaga mereka saat mommy di Korea hingga akhir bulan nanti. Tadi sore simbok datang bawa banyak oleh-oleh hasil sawah dan kebunnya di kampung. Dan saya sudah wanti2 simbok untuk membiarkan anak2 melakukan tugasnya masing2 supaya mandiri.

Beneran deh, kalau kita ikhlas apapun jalannya akan terasa dimudahkan. Tapi ya untuk menuju ikhlasnya itu memang nggak mudah sih. Harus melalui proses, and we can’t discount the process. Dan satu hal: kalau jaman sekarang aja udah susah cari pembantu, apalagi di jaman anak2 kita dewasa nanti, mungkin Indonesia udah setara dengan negara maju lain yang biaya jasa pembantunya selangit. Kalau mereka nggak dibiasain hidup mandiri sejak dini, I’m afraid it would be too late for them to learn. I just don’t want them to become spoiled brats and make others -especially their spouses- to become uncomfortable of their recklessness.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe