Duka

Monday, November 02, 2015

image



Baru Senin lalu mama mertua keluar dari RS setelah diopname 5 hari karena hipertensi, Senin ini saya menjenguk adik bungsu yang diopname di RS sejak kemarin karena gangguan pencernaan. Berangkat dari rumah ke RS butuh waktu tempuh 2 jam naik angkot dan trans jakarta karena macetnya luar biasa. Sengaja tidak naik Uber atau taksi atau ojek karena rutenya tidak lebih cepat. Capek sih, dan gerah banget pastinya, tapi hiburan saya saat macet adalah mengamati orang2 di dalam kendaraan umum atau di pinggir jalan =) 


Sampai di RS, adik saya sedang dijenguk oleh temannya yang bulan lalu baru saja kehilangan anak, istri, dan ibu mertuanya sekaligus dalam satu kecelakaan mobil di Perancis. Ceritanya, mereka sedang akan menjemput teman adik saya itu yang baru datang dari Indonesia. Mereka hendak berbelok ke masjid untuk sholat, saat truk datang menghantam hingga membuat mobil mereka terguling-guling dan dihantam lagi oleh mobil lain. Anaknya yang baru berusia 4 bulan dan ibu mertuanya tewas di tempat, sedangkan istrinya sempat kritis selama 2 jam sebelum akhirnya berpulang.. 


Setelah teman adik saya itu pamit, tidak lama kemudian pasien yang satu ruangan dengan adik saya tiba-tiba saja kritis. Usianya 68 tahun, perempuan, saya tidak tahu namanya, hanya tahu dipanggil Opung oleh anak perempuan dan cucu laki-lakinya yang berusia sekitar 8 tahun. Saya mendengar dan menyaksikan semenjak ia mengorok kencang, diberi nafas buatan, dipompa jantungnya, ditangani oleh sekitar 3 dokter dan 5 suster selama hampir 2 jam, hingga akhirnya tidak tertolong lagi… 


Karena kebetulan saudara seiman, saya ajak anak perempuan opung tersebut dan cucunya untuk berdoa bersama sejak awal opung itu kritis. Ibu itu memeluk saya erat, dan saya biarkan ia menangis sejadinya di dekapan saya. Ia terus memanggil-manggil ibunya, dan ketika akhirnya dokter menyatakan bahwa ibunya telah tiada, ia histeris kencang… “Mamiiii! Mamiiii! Bangun mamiii!! Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagiii! Aku sudah tidak punya suami, sekarang aku kehilangan mamiii! Mami jahattt.. Mami jahattt… Apa dosaku mamiii…." 


Tak lama setelah opung itu dinyatakan meninggal, mama saya datang langsung dari pulau Bangka - Sumatera. Saya harus segera pulang sebelum anak-anak pulang, karena kami tidak menggunakan jasa pembantu full time. Sepanjang perjalanan pulang selama satu jam, saya memikirkan apa yang hendak Tuhan sampaikan dengan cara memberikan pengalaman barusan. Mengapa banyak sekali kejadian yang berkaitan dengan kematian? Sus Carla, tetangga kami yang berusia 69 tahun juga minggu lalu meninggal setelah koma hampir sebulan lamanya. 


Dari pelatihan Trauma Healing yang saya ikuti beberapa waktu lalu, saya belajar banyak tentang kedukaan. Berdukacita adalah menangisi suatu kehilangan. Melalui proses berdukacita, kesadaran diri seseorang berubah dan menyesuaikan kepada pola hidup yang baru, dan ini memerlukan waktu dan energi. Berdukacita menjadi bagian dari proses pemulihan yang wajar atas suatu kehilangan. 


Airmata adalah jalan yang disediakan Tuhan untuk membuang kesedihan dari tubuh kita. Menangis adalah bagian penting dalam proses berdukacita, baik untuk pria maupun wanita. Biarkan mereka mengeluarkan rasa marah atau kesedihan. Dengarkan ungkapan rasa sakit mereka, lebih banyaklah mendengar daripada berbicara. Pemulihan terjadi kalau mereka mengeluarkan rasa sakit di hatinya. 


Ada 3 Tahap Berduka:

1. Menyangkal & Marah. Biasanya selama 1 bulan. 

2. Tidak ada harapan. Biasanya 6-15 bulan. It gets worse during anniversary, special dates, atau tanggal terjadinya kehilangan. 

3. Hidup baru. Biasanya dalam 1-2 tahun. Seseorang menjadi lebih kuat, memulai hidup baru, lebih siap menghabiskan waktu dengan teman2, menikah lagi, hamil lagi, dsb. 


"One of the greatest feeling that we can give to traumatize people is to let them express their feeling to God. Do not preach them at this stage, just listen and let them know that you’ll stay beside them to get through. Timing is very important. Learn when is the right time to say the right thing.”


Semoga mereka yang kehilangan dapat memberikan cukup ruang dalam hati untuk berduka, sehingga ketika fase2 itu berhasil dilewati, tidak ada beban lagi nantinya. Amin.


You Might Also Like

0 comments

Subscribe