Insomnia

Wednesday, September 30, 2015

Dulu saya insomnia. Akut. Semakin kuat keinginan saya untuk tidur, semakin saya tidak bisa tidur. Tak peduli betapa padatnya hari saya, atau betapa santainya, otak saya menolak berhenti sejenak untuk istirahat. Jika beruntung, saya bisa jatuh tidur jam 2 pagi, itupun sangat jarang sekali. “Normalnya” di atas jam 3 pagi, atau bahkan tidak tidur sama sekali. Parahnya, saya sangat sulit untuk bisa tidur lagi kalau tiba2 terbangun, meski baru tidur 10 menit sekalipun. Keadaan ini berlangsung selama bertahun-tahun. 

Segala saran dan usaha untuk lepas dari insomnia sudah saya lakukan: jauhkan gadget, matikan lampu, mandi air hangat, minum susu, baca buku, nulis diary, hitung domba satu sampai seribu, bahkan minum pil tidur pun tak jarang saya lakukan. Sesekali saja berhasil, tapi lebih sering gagal. 

Tersiksa? Jelas. Siklus harian saya berkebalikan dengan orang kebanyakan: otak bekerja tengah malam, tidur menjelang pagi, kemudian fisik bekerja seharian. Kurang tidur itu nggak enak, banyak efek buruknya. Mulai masalah kesehatan tubuh, mental, psikis, sampai tekanan sosial. Tau kan, masyarakat kita masih gencar menilai negatif orang yang bangun siang. Nggak peduli apa masalahnya, ngapain aja malamnya, mau kerja serajin apapun seharian, pokoknya bangun siang = pemalas!  

Awalnya saya merasa penyebab utamanya karena anak2 yang pada waktu itu masih kecil2 sering bangun minta susu atau buang air. Jadi saya ronda tiap malam untuk bikin susu dan (maaf) nyebokin mereka. Baru saja berhasil tidur, si kakak bangun minta susu, susah payah tidur lagi, si adik bangun buang air. Begitu terus sampai pagi, dan keesokannya jadi zombie. 

Namun setelah anak2 sudah agak besar dan tidak pernah bangun lagi tengah malam, insomnia saya kok tidak juga hilang. Dan setelah diingat2 lagi, sejak belum menikah pun saya sudah insomnia. Jadi masalah anak sering bangun itu ternyata cuma faktor pendukung yang memperparah keadaan saja. Lalu, apa faktor utamanya? 

Sebenarnya, saya takut tidur karena selalu bermimpi. Baru memejamkan mata selama 5 menit saja, sudah muncul mimpi dalam tidur saya. Sialnya, satu per satu mimpi2 itu terekam jelas di otak bahkan setelah saya bangun. Jadi saat tidur, saya bukannya istirahat tapi justru memeras otak. Dan ketika bangun, bukannya segar tapi malah luar biasa lelah. 

Mimpi tentang apa? Banyak pastinya. Tapi di antara sekian banyak mimpi itu, yang benar2 mengganggu muaranya cuma satu: unfinished business. Suatu urusan yang belum selesai di masa lampau, dan ditekan sedemikian rupa supaya tidak muncul lagi ke permukaan. Unfinished business ini secara pasti masuk ke alam bawah sadar, berusaha keluar mendobrak tembok yang membatasinya dengan alam sadar.

Pada satu titik, saya beranikan diri untuk mengurai unfinished business itu, dengan segala resikonya. Tidak mudah sama sekali, tapi juga tidak mustahil. Bahkan ada keajaiban di sana, jauh melampaui ekspektasi saya. Saya bersyukur telah menghadapinya, meski tetap ada collateral damagenya. Setelah itu blas, mimpi2 tentang unfinished business itu hilang. Kalaupun sesekali datang, sudah tidak mengganggu lagi. 

Kini, saya lupa kapan terakhir kali bermimpi. Saya jarang kesulitan tidur lagi. Semalam bahkan jam 9 saya sudah luar biasa mengantuk dan terlelap dengan cepat. Pagi ini, setelah anak2 berangkat sebelum matahari meninggi, saya menikmati waktu untuk diri sendiri. Duduk di bangku goyang kesukaan, memandangi tanaman2 yang ada di teras balkon, dibelai angin sepoi2, diiringi kicauan burung yang berasarang di pohon mangga :)

Kamu pernah atau bahkan masih insomnia? Mungkin kamu punya cerita yang sama, atau sama sekali berbeda? Kalau mau curhat boleh lho, bisa di kolom komen atau japri ke nuniek@nuniek.com :) 

Rabu, 30 September 2015
Nuniek Tirta -yang sudah tidak insomnia- 

*semua foto diambil dari google images (kecuali foto terakhir)

You Might Also Like

0 comments

Subscribe