DISPLACEMENT

Wednesday, September 02, 2015

Duluuu saya tidak
mengerti, mengapa saya bisa senang dan tenang seharian bersama anak-anak, namun
begitu suami pulang saya menjadi uring-uringan, lebih mudah tersinggung dan
gampang marah pada anak-anak. Padahal suami tidak berbuat apa-apa dan saya juga
tidak merasa ada masalah dengan suami. Awalnya saya pikir apakah karena suami
sering pulang terlambat. Tapi begitu dia pulang tepat waktu pun saya tetap
merasakan hal yang sama. Atau apakah karena anak-anak lebih sulit diatur ketika
ada ayahnya? Tidak juga. Lalu, apa yang terjadi?

Setelah
belajar ilmu psikologi melalui kuliah konseling, saya mempelajari apa yang dinamakan  displacement  sebagai
salah satu  self defense mechanism.

image

Displacement is the redirecting of thoughts feelings and
impulses directed at one person or object, but taken out upon another person or
object. People often use displacement when they cannot express their feelings
in a safe manner to the person they are directed at. The classic example is the
man who gets angry at his boss, but can’t express his anger to his boss for
fear of being fired. He instead comes home and kicks the dog or starts an
argument with his wife. The man is redirecting his anger from his boss to his
dog or wife. Naturally, this is a pretty ineffective defense mechanism, because
while the anger finds a route for expression, it’s misapplication to other
harmless people or objects will cause additional problems for most people.”
Source: http://psychcentral.com/lib/15-common-defense-mechanisms/2/

Intinya adalah
kemarahan atau kekecewaan yang salah sasaran. Jadi sebenarnya secara sadar
ataupun tidak, begitu suami pulang, otomatis timbul harapan saya untuk mendapatkan
perhatian. Namun saya kecewa dengan perilaku suami saat itu yang pulang hanya untuk
makan, nonton tv, tidur. Tetapi saya tidak bisa mengidentifikasi kekecewaan
saya sendiri, karena logika saya berpikir bahwa suami sudah capek. Sedangkan
kebutuhan emosi utama saya sebagai wanita yaitu afeksi, tidak terpenuhi sama
sekali. Afeksi yang saya butuhkan berupa perhatian, entah sekedar ditanyakan
“how was your day?”, atau syukur2 dibawakan makanan kesukaan, itu belum
terpenuhi. Ingat, afeksi ya, bukan sexual
fulfillment (which is the first emotional need of men based on His Needs Her
Needs book by William Harley)
. Karena affection
dan sexual fulfillment adalah dua
hal yang sama sekali berbeda.
 

Bagaimana saya
bisa mengutarakan kekecewaan saya kalau saya cepat-cepat merasionalisasi dengan
berkata pada diri sendiri, “Ah saya terlalu penuntut!” Di lain pihak, suami pun
juga pastinya tidak nyaman ketika pulang melihat saya uring-uringan. Saya tidak
tahu apa yang terjadi, dia pun juga tidak tahu apa yang terjadi. Ditambah lagi
apabila ia juga sedang menghadapi masalah di pekerjaan, bagaimana mau berbagi
dengan istri kalau istrinya terlihat marah marah melulu? Sedangkan saya juga
bagaimana bisa ngomong kalau melihat suami saja sudah jengkel karena cuek
bebek. Kalau sudah begitu, tingkat toleransi kami terhadap kesalahan anak-anak
jadi menurun jauh. Bahkan kadang yang tidak salah pun jadi salah. Terjadilah yang
dinamakan displacement.
Duh, semua
jadi tak nyaman kan.

Meskipun saya
sudah memahami konsep mengelola harapan alias managing expectation, nyatanya saat itu saya belum mastering  skill how to convey my expectations. Untunglah
ketika saya dan suami mengikuti retreat pasutri beberapa tahun lalu, kami bisa
saling mengkomunikasikan secara terbuka sepenuhnya apa yang menjadi harapan dan
kekecewaan kami selama ini. Satu hal yang terus digarisbawahi selama mengikuti
retreat pasutri: jangan pernah mengharapkan pasangan berubah. Jangan.
Lho, kenapa? Pertama, manusia hanya mau berubah ketika keinginan datang dari dalam
dirinya sendiri. Kedua, karena poin pertama tadi, maka kita akan selalu kecewa
ketika harapan kita tidak terpenuhi. Ketiga, yang bisa kita lakukan adalah,
ubah diri sendiri!

Lho, kok, dia
yang salah, kitanya yang harus berubah? Hmm, salah dari kacamata siapa dulu?
Kalau dari kacamata saya, tentu suami yang salah, wong nggak bisa ngerti
keinginan istri. Tapi dari kacamata suami, tentu saya yang salah, wong bisanya
cuma marah marah. Suami mana tau apa keinginan saya kalau saya nggak pernah
bilang kan? Dan kalaupun pernah, saya bilangnya sebel kalau dia pulang
terlambat. Padahal bukan pulang terlambatnya, tapi nggak ada perhatiannya itu
yang bikin saya sebel. Dan itu tidak saya ungkapkan karena takut dibilang
terlalu menuntut. Ujung-ujungnya ya itu tadi, saya jadi uring-uringan karena
kebutuhan akan afeksi tidak terpenuhi.

Jadi, solusinya
apa? Pertama, akui dulu pada diri sendiri kalau kalau kita memang punya kebutuhan akan afeksi yang belum terpenuhi. Lalu, ini yg penting: ngomong aja! Ngomong, tanpa takut dihakimi (bahkan oleh diri sendiri)
kalau saya jadi seperti terlalu menuntut. Ngomong, tanpa takut kecewa jika
harapan yang saya utarakan nantinya tidak bisa terpenuhi. Ngomong, supaya
sinkron. Dan ternyata memang, dengan mengungkapkan apa harapan saya sebenarnya, itu sudah membuat saya lega. Persoalan dipenuhi atau tidak, sebenarnya tidak
terlalu berarti. Istilahnya, keluarkan dulu kotoran yang mengendap di tangki
hati, agar bisa diisi dengan air bersih yang baru.
Dan biasanya sih, ketika
kita mampu mengkomunikasikan dengan cara yang tepat, pasangan bisa mengerti dan
mau menyesuaikan kok. Kita kan manusia, diberi keistimewaan oleh Tuhan dengan
kemampuan pikiran dan perasaan, supaya bisa berkomunikasi dengan cara yang
manusiawi pula. Kalau dipikir-pikir, saya dulu seperti kelinci peliharaan saya
saja deh, yang kalau tidak melihat saya tampak anteng-anteng saja, tapi begitu
melihat saya langsung rusuh sana sini untuk mendapatkan perhatian supaya diberi
makan =))

Selasa, 1 September
2015 09:35

Nuniek Tirta
Ardianto

*Ditulis sambil
ngemil otak-otak kesukaan yang dibawakan suami semalam :)

You Might Also Like

0 comments

Subscribe