To Speak Up and to Listen Up

Wednesday, November 05, 2014

Minggu malam lalu, dd V nangis sesegukan. Kami semua bingung kenapa. Sejam kemudian setelah benar2 reda, baru dia mau bicara. Rupanya, daddy salah gantiin buku pelajarannya. Harusnya buat Senin, daddy bawain buku yg hari Jumat. Biasanya dia ganti buku sendiri, tapi karena dia ngantuk berat dan sudah malam jadi daddy bantuin gantiin.


Mommy tanya apa dia waktu itu bilang ke daddy kalau itu salah, dia bilang sudah tapi daddy diam saja. Makanya dia nangis karena dia merasa marah sama daddy. Dalam tidurnya malam itu dia beberapa kali terbangun dan bilang, “belum ganti buku”. Begitu bangun pagi pun kata pertama yg diucapkan: “ganti buku”.


Waktu paginya mommy bilang ke daddy, daddy bilang nggak dengar kalau V bilang salah. Daddy juga sempat cek lagi, menurut daddy sudah sesuai dengan buku agendanya. Padahal yg di agenda itu untuk Jumat bukan Senin. Jadi sesungguhnya dd V yg benar. Hanya saja dia kurang speak up, dan daddy kurang listen up.


—-


Semalam gantian si kk yg nangis. Bangun tidur selepas Maghrib dia bilang mau makan dulu baru mandi. Tapi pas mommy ajak makan, sudah dipanggil 5x tidak bergeming, masih asik dengan prakaryanya. Ketika akhirnya dia mulai beranjak sambil hendak membawa prakaryanya, mommy bilang jangan dibawa nanti tumpah ke mana-mana, lagipula kk belum belajar buat ulangan. Dia turun dengan bersungut-sungut. 


Mommy tanya, “Jadi kk maunya apa?” Dia diam tak bersuara, masih dengan wajah merengut. Lalu mommy bilang, “Ya sudah kalau nggak mau makan.” Kemudian dia lari ke kamarnya dan menangis. Mommy keep calm and eat with dd V, lalu naik ke kamar atas. I give her and also myself space to cool down and think. Mommy lihat dari CCTV nggak lama setelah mommy naik ke atas, dia baru mulai makan. 


Selesai makan, dia naik ke atas, masuk ke kamar dengan senyum lebar seperti nggak ada apa-apa. Mommy tanya, tadi kenapa. Dia bilang, “Aku tadi sedih mommy marah.” Mommy bilang, “Mommy tadi juga sedih kk nggak mau dengerin mommy, padahal cuma disuruh makan aja” Dia jawab, “Tadi aku bukannya nggak mau makan, tapi aku mau bawa prakarya aku ke bawah buat disetrika supaya jadi, baru habis itu makan trus belajar.” Dueeeengggg.. 


Jadi kali ini kk M yg kurang speak up, dan mommy kurang listen up. 


——


Why it is so important to speak up? So that other knows what you really want, instead of repressing it just inside yourself. 


Why it is so important to listen up? So that you know what other really wants, instead of guessing based on your own assumption. 


It took me years and cost me a clinical psychologist to really realize the importance of speak up and listen up, and I don’t want my kids to go through the rough way as I did. 


“Do we give our kids enough chance to speak up, and do we give ourselves enough time to listen up?”


I’m glad that we quickly resolved the problem and learned from it. 


—== Nuniek Tirta Ardianto ==—


Wednesday 05 November 2014 08:28

You Might Also Like

0 comments

Subscribe