Saya menerima email ini dari salah satu follower twitter saya pada 9 Juni 2010 lalu…
“Mba Nuniek, aku mau tanya, social media itu apa mba? Nama web, organisasi, atau apa? Aku dah baca tweet mba yg bilang tentang social media gitu (yg isinya menambah semangat). Apakah itu kumpulan para blogger mba? Anyway blogger itu tah sebenernya siapa n apa kerjanya mba? Apa social media sama startuplokal itu sama mba? Jangan diketawain ya mba kalo pertanyaannya odonk… Nanti ya mba cita-citaku, kalo aku dah merit aku mau tetap kerja (jd ga usah bergantung sama suami) tapi ga mau juga anak-anakku diurus penuh sama mba sus.. Trus aku agak ga suka kerja kantor.. N rasanya internet jadi jawaban.. Cuma ga tau kudu diapain..” (edited)
Email panjang yang belum saya balas hingga saat ini, karena jawabannya juga akan tak kalah panjang. Tapi saya sudah berjanji untuk menjawabnya dalam satu tulisan blog khusus, dan inilah postingannya.
“Social media are media for social interaction, using highly accessible and scalable publishing techniques. Social media uses web-based technologies to turn communication into interactive dialogues.”
Saya memiliki account twitter sejak 10 September 2008, dan account facebook jauh sebelum itu. Namun, saya baru benar-benar mengoptimalkan fungsinya sebagai media untuk berinteraksi sosial sejak April 2010. Sebelum itu, saya mengunci rapat-rapat account facebook dan twitter saya hanya untuk orang-orang yang sudah saya kenal. Ratusan friend request di facebook saya abaikan, terutama dari kaum laki-laki. Begitupun di twitter, saya memprotect account twiter hanya untuk 53 orang teman yang sudah benar-benar saya kenal.
Hanya karena sudah merasa nyaman dengan kehidupan berkeluarga, saya lantas menutup diri untuk mengenal orang-orang baru. Sebegitu protektifnya saya terhadap diri sendiri, sehingga saat itu saya merasa tak perlu berinteraksi sosial selain dengan keluarga, rekan, dan sahabat. Sayapun dengan sukarela menenggelamkan diri dalam kehidupan rumah tangga dengan dua balita, dan usaha butik online HamilCantik.com yang saya jalankan dari rumah. Saya bahkan heran ketika obrolan makan malam kami tergantikan dengan sibuknya jemari menjelajah social media.
Ternyata, dibutuhkan ketidaknyamanan agar kita mencapai tingkat kenyamanan berikutnya.
Sejak menikah, saya ibarat membangun istana yang hanya boleh dimasuki oleh keluarga kecil saya. Istana itu dikelilingi tembok kokoh yang sangat tinggi, tak ada celah bagi orang lain untuk masuk ke dalamnya. Saya mendedikasikan seluruh waktu & tenaga untuk menghangatkan istana, sehingga tak ada lagi kebutuhan untuk menghirup udara segar di luar. Sampai pada suatu titik di mana saya seperti terkurung oleh istana yang saya buat sendiri, dan merasa sangat kesepian.
Ketika ada seseorang yang saya kagumi dengan nyalinya memanjat tembok tinggi itu hanya untuk menanyakan apakah saya baik2 saja, dan menyatakan bahwa ia akan selalu ada untuk saya, dengan mudahnya saya tersanjung dan merasa sangat diperhatikan. Dengan cepat sayapun menyadari, ini tanda bahaya. Ujian terbesar dalam kesetiaan adalah ketika keinginan untuk tidak setia datang dari diri sendiri, bukan karena adanya godaan atau kesempatan.
Pada saat itulah saya menyadari, bahwa saya harus merobohkan tembok tinggi itu dan mengubahnya menjadi jembatan di sekeliling istana. Sebuah jembatan luas yang menghubungkan istana indah itu dengan dinamisnya dunia luar, sehingga saya tak lagi merasa terkurung dan kesepian. Dan ketika seseorang yang saya kagumi menanyakan kabar dan menyatakan bahwa ia akan selalu ada, saya menganggap itu sebagai hal yang biasa-biasa saja, tak lagi tersanjung dan tak perlu dianggap sebagai tanda bahaya, coz I get that a lot from others ^.^
Bagi saya, jembatan itu adalah social media. Sesuatu yang dapat membawa saya berinteraksi dengan dunia luar, tanpa harus secara fisik berada di sana. Sesuatu yang dapat secara langsung memperkenalkan saya dengan orang orang hebat. Sesuatu yang dapat memberikan informasi secara cepat. Sebuah ruang bermain raksasa bagi semua orang, yang dapat diakses kapanpun, dimanapun. Sesuatu yang sangat bermanfaat jika kita tau bagaimana mengoptimalkannya, tanpa harus menguras tenaga.
Tanggal 4 April 2010, saya memutuskan untuk meng-unprotect account twitter saya. Saat itu, jumlah follower saya hanya 53, jumlah followingnya lebih sedikit lagi, dan semuanya saya kenal. Kemudian saya memfollow orang-orang yang belum pernah saya kenal sebelumnya, dan mulai berinteraksi dengan mereka. Saya kembali aktif mengisi blog di Nuniek.com ini. Saya mulai datang ke acara kumpul2 komunitas. Saya ingat, pertama kali ikut gathering lagi adalah saat @id4sq pada 16 April 2010 kumpul2 di Nathan Coffee Sky Dingin Plangi untuk mendapatkan Swarm Badge.
Tanggal 6 Mei 2010, my hubby @nataliardianto dan saya beserta Sanny Gaddafi dan Rama Mamuaya mengajak teman2 startups digital ngopi bareng di Starbucks FX Plaza. Perkiraan kami, yang datang paling banyak sekitar belasan orang. Ternyata, ada 33 orang yang hadir! Padahal ajakan hanya melalui twitter dan baru diumumkan 2 hari sebelumnya. And that was officially the first #StartupLokal Meetup =)
Then the story goes. #StartupLokal kini berkembang menjadi salah satu komunitas terhangat di dunia digital. #StartupLokal Meetup secara rutin diadakan pada hari Kamis minggu pertama setiap bulannya, dan rata2 dihadiri sekitar 150-200 orang. Milis #StartupLokal yg saya buat pada 18 Mei 2010 kini juga menjadi ajang diskusi seru bagi para penggiat startup. Tanpa kami cari, para sponsor berdatangan sendiri. Komunitas #StartupLokal juga mendapatkan penghargaan Marketeers Netizen Champion pada 27 Oktober 2010 lalu yang diserahkan oleh Pak Hermawan Kertajaya.

Ki-Ka: @sagad @salsabeela @nuniek @hermawank @nataliardianto
Melalui social media khususnya twitter, saya berkenalan dan bertemu langsung dengan orang-orang hebat di bidangnya. Dari duta besar, menteri, direktur jaringan media nasional, pendiri sekolah PR terbaik, chef ternama, para pemimpin redaksi media nasional, para entrepreneur sukses, penulis bestseller books, hingga keluarga orang terkaya nomor satu di Indonesia. Tak jarang hanya berawal dari memfollow, lalu difollow, kemudian bertemu di dunia nyata, dan akhirnya menjalin kerjasama.
Saya dipercaya oleh beberapa brand untuk menjadi buzz agent / influencer / rainmaker. Saya jadi sering mendapat undangan menghadiri acara2 bagus, termasuk di antaranya pidato Obama di Universitas Indonesia dengan tiket VIP. Selain itu, saya juga banyak mendapat kesempatan menikmati tawaran gratisan di dunia maya. Salah satunya adalah jalan2 ke Universal Studio GRATIS dan menginap 3 hari 2 malam di Hotel Conrad Singapore oleh Telkomsel ^.^

Jika dibuat daftar apa saja keuntungan yang telah saya dapatkan setelah mengoptimalkan social media, rasanya akan sangat panjang sekali dan tak ada habisnya. Jika dibuat daftar kerugiannya, saya yakin akan jauh lebih pendek dan tak sebanding dengan nilai positifnya. Saya menemukan kembali hobi saya yang sempat mati suri: writing, community building, networking, and connecting people.
Kini, jumlah follower twitter saya yang tadinya hanya 53 orang itu telah bertambah menjadi lebih dari 1400 dalam waktu 8 bulan. Jumlah friends di facebook dari hanya 200an menjadi 700an, itupun masih banyak yang pending request dan saya decline karena beberapa pertimbangan. Saya juga diminta oleh @Sagad untuk menjadi CEO BundaGaul.com, situs networking khusus untuk para bunda di Indonesia yang tepat hari ini berulang tahun ke-2, sejak awal Juni 2010 hingga awal Desember 2010 kemarin. Meski tak lagi di sana, saya akan selalu support sebagai sesama pelaku industri startup digital. Saya juga mensupport Mothers On Mobile, aplikasi Blackberry yang kini menjadi favorit saya untuk mengupdate status -karena sekali klik bisa langsung update ke MOM, twitter, dan facebook, dan berhadiah point pula ^.^
Di Hari Ibu ini, izinkan saya menyampaikan pesan kepada sesama bunda di seluruh nusantara:
Hanya karena telah menikah, bukan berarti kita harus menutup diri dan berhenti beraktualisasi. Kita tak akan pernah tau potensi diri jika bukan kita sendiri yang menggalinya. Teruslah bersosialisasi, perluas jaringan pertemanan, berkenalan dengan teman teman baru, ambil manfaat dari pertemanan itu untuk memperkaya kehidupan kita baik sebagai pribadi, istri, maupun seorang ibu =)
Happy Mother’s Day!





Thx for sharing :)
Pingback: 1 Decade of Blogging! | Nuniek.com – Daily Life of an Indonesian Woman