“Indonesia sekarang ini hujan demokrasi tapi kemarau idealisme.” –Dino Patti Djalal

Setelah beberapa waktu lalu “pengajian” #LoveCabe selonjor bareng Ibu Menteri Mari E. Pangestu, hari Rabu 1 September 2010 kemarin Uni Lubis mempertemukan kami dengan Dino Patti Djalal. Seorang Dubes RI termuda untuk Amerika Serikat yg berkeinginan menjadi “Dubes Twitter” RI pertama ini ternyata begitu humble & low profile. Bertempat di Gd. Danareksa Medan Merdeka Selatan, ngabuburit bertema “The Role of Social Media in Foreign Diplomacy” ini berlangsung santai dan fokus.

Acara dijadwalkan mulai pukul 15:30, namun sekitar pukul 16:00 Pak Dino baru saja berangkat dari Cikeas (atau Cilangkap? CMIIW) dengan voor rijder, setelah menyelesaikan pidato kepresidenan yang akan dibacakan SBY malam itu juga. Sambil menunggu beliau datang, Uni menodong Pak Ishadi Ishak & Pak Sabam Siagian untuk berbagi cerita.

Pak Ishadi Ishak mengawalinya sharingnya dengan kisah:
“Tahun 1970an, cadangan devisa China jauh di bawah Indonesia. Thn 1990an naik pesat hampir menyamakan Indonesia. Lalu tahun 2000an, ekonomi China melonjak drastis. Kenapa? Karena pemerintah China menghukum mati 3000 koruptor!”
Lalu ia blak2an berbagi pengalamannya tergoda dan insyaf dari korupsi. Setelah dipecat dari TVRI, beliau ditawari memimpin TPI. Ia menerima tawaran itu dengan 3 syarat: 1) Jangan ganggu gugat 2) Beri waktu 2 tahun untuk menunjukkan hasil nyata 3) Beri gaji cukup biar tidak korupsi!
“Potensi perpecahan dapat diatasi oleh kemakmuran, kemakmuran bisa dicapai dengan pembangunan; pembangunan bisa dilakukan dengan stop korupsi! Bayangkan, 40% APBN bocor karena korupsi!”
Soal kasus Malaysia, ia memberikan pendapat:
“Jangan marah sama Malaysia, harusnya kita iri. Kita kurang kompak, kurang berani. Apa yang membedakan Malaysia dengan Indonesia? Semua sama. Cuma satu: mereka punya Mahathir Mohammad yg visioner! Visinya Malaysia bisa sama seperti Eropa pada tahun 2020!”
Pak Ishadi selesai sharing dan Pak Dino belum datang juga, maka Uni menodong guest speaker yg kedua: Pak Sabam Siagian. Beliau adalah mantan Dubes RI untuk Australia, mentornya Menlu Marty, salah satu pendiri dan Pemred pertama @TheJakartaPost, yg menurut @unilubis bisa “menjinakkan” pers Australia yg ganas2. Menurutnya, reaksi kabinet termasuk pose bersama menteri-menteri politik hokum dan HAM ketika membahas Indonesia-Malaysia, foto itu secara diplomatik “raising temperature”, dan itu tidak perlu.

Sekitar jam 5 lewat akhirnya Pak Dino datang, dan memberikan insight off-the-record (and of course off-the-tweet) mengenai pidato SBY tentang kasus Indonesia-Malaysia.
Tidak semua sengketa itu harus dihadapi dengan berkelahi – dinopattidjalal
Kemudian ia bercerita (kali ini boleh ditweet) mengenai mengapa ia memanfaatkan twitter sebagai medium komunikasi.
“Kita ini sudah berada di jaman one second away. Artinya, sekali klik pesan terkirim pada detik itu juga. Beda jauh dengan jaman saya sekolah dulu, kirim surat ke pacar dari Amerika ke Indonesia baru 2 minggu sampai pesannya. Saya ingin memberdayakan konsulat jenderal di Amerika supaya lebih modern dan membuka banyak kesempatan untuk rakyat Indonesia.”
Menurutnya, di samping IQ, EQ, dan SQ, ada lagi yg lebih penting: OQ. Apa itu? OQ adalah Opportunity Quotient, yaitu kemampuan melihat peluang sehingga tidak melihatnya sebagai ancaman yang menakutkan. Jika IQ tinggi namun OQ rendah, bisa menghasilkan paralysis, yaitu paranoia yang melumpuhkan.
“Salah satu tantangan tertinggi dalam diplomasi adlh mengentaskan teori konspirasi dari para pembuat keputusan.” dinopattidjalal
Mindset inferior atau minder seringkali menyebabkan teori konspirasi, prasangka buruk bahwa dengan bekerjasama dengan Amerika berarti kita telah didikte Amerika, sehingga banyak peluang yg hilang. Contohnya proyek NAMRU yg ketika ditawarkan ke Indonesia, banyak yg menolak dan diojok2 (dicela). Padahal itu adalah laboratorium canggih yg mendidik & melayani masyarakat dengan gratis. Karena ditolak di Indonesia, NAMRU sekarang berada di Vietnam. Jadi kalau ada wabah virus aneh di Indonesia, penelitiannya dilaksanakan di Vietnam. Sangat disayangkan.
“I’m critical. But never once I’m cynical. And I’m not apologetic about that. In fact, I’m proud of it”-dinopattidjalal
Ia menyayangkan, masih banyak generasi muda yg tenggelam dalam budaya sinisme. As if “I’m cynical -I’m being smart.” Ini yg harus dikikis. Silahkan kritis, tapi tetap positif. Jangan sinis apalagi selalu berpikiran negatif. Ia merekomendasikan buku Larry King’s : How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere.

Sebelum sesi tanya jawab dimulai, Uni memberikan informasi ke Pak Dino mengenai adanya komunitas wirausaha Indonesia: TDA dan StartupLokal. Saya dan Ollie pun diminta berdiri dan diperkenalkan ke Pak Dino secara khusus. Disampaikan pula bahwa banyak investor yg tertarik untuk seed funding di Indonesia namun justru investor lokal sendiri hampir tidak ada. Siapa tau ada yg bisa dilakukan untuk mensupport wirausaha muda Indonesia. (Thanks Mbak Uni!)

Pada sesi tanya jawab yg terpotong buka puasa dan foto2, ada banyak perkataan beliau yg menarik dan sangat “tweetable”. Di antaranya:
“Kuncinya country branding cuma satu: harus konsisten!”
“Kebijakan di atas bisa indah tapi grass interest mempersulitnya. Siapapun pemimpinnya akan mengalami hal itu.”
“Tiga stakeholders yg kurang digarap dlm hub RI-AS: Hollywood, SiliconValley, Research centers.”
“Diplomat Indonesia bahasanya kaku. Padahal kita negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Ini aset baru. Aset kedua adalah Indonesia negara muslim terbesar di dunia. Ini sudah lama.”
Ada satu fakta menarik dan cukup menggelitik dan ingin saya tanyakan terkait kalimatnya berikut ini:
“Pelajar Indonesia di Amerika turun jauh jumlahnya dari 14 ribu ke 7 ribu sekarang ini. Sementara pelajar China di Amerika meningkat jauh.” @dinopattidjalal
Is it good or bad? Apakah ini berarti pendidikan di Indonesia sudah jauh lebih baik, atau kemampuan ekonomi kita yang menurun? Sayang, kesempatan tanya jawab sangat terbatas karena beliau harus sudah berada di tempat lain jam 7, dan meninggalkan tempat jam 6:45. Siapa tau beliau berkenan mampir di blog ini dan syukur2 menjawab pertanyaan saya di sini =)

Thanks Uni for the opportunity, thanks Dino Patti Djalal for the valuable insight, and thanks all #LoveCabe friends for all the laughters! And oh, we love the food… Berlimpah dan nikmat! =D Sampai ada yg ngunyah terus tuh selama Pak Dino ngomong, dan dikomentarin pula sama beliau, hihihi… *link tanpa mention =p Cya all after Idul Fitri yaaa! Sesi halal bihalal =)

Cheers,
Nuniek Tirta Sari – @nuniek




waah keren bgt event-nya.. huhu ajak2 doong yg begini :D
bener bgt ttg yg budaya sinis itu, totally agree!
wah kynya bukunya Larry King itu musti dicari..
Wow! event yang sangat inspiratif.
Apakah LoveCabe ii komunitas khusus untuk Uli, atau dibuka untuk semua yang punye ketertarikan serupa?
Would love to join! :)
wihhhhhhhh….
udah nyampe amrik ibu satu ini hehe