“Selamat siang Mbak Nuniek. Saya dari MarkPlus, ingin mengundang Mbak Nuniek sebagai salah satu twitter opinion leader atau influencer, untuk berkenan hadir di acara buka bersama sekaligus diskusi mengenai Netizen. Bisa?”
Twitter opinion leader? Influencer? Benarkah saya sudah termasuk golongan itu? Hmm… Biarkan mereka yang menilai. Yang pasti, saya senang telah diundang.
Hadirlah saya (@nuniek) di kantor MarkPlus pada hari Selasa, 24 Agustus 2010 lalu bersama 10 undangan lainnya. Ada Radityadika, Aldo Sianturi, Fahira Idris, Ollie, Kemal Arsjad, Ndorokakung, Z Hafizah, Warih, Andrew Darwis, dan Andrie Djarot yang followersnya ribuan, puluhan ribu, bahkan si Marmut Merah Jambu bin Kambing Jantan itu hingga 400ribu! Followers saya? Seribu pun belum sampai, baru 700an =p
Apa itu netizen? Bagaimana karakternya? Apa anxiety dan desirenya?
“A Netizen (a portmanteau of Internet and citizen) or cybercitizen is a person actively involved in online communities.” – Wikipedia
Pertanyaan-pertanyaan di atas mendasari Focus Group Discussion yg sangat seru malam itu. Pihak MarkPlus ingin mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai netizen dari para netizen sendiri. Saking serunya, saya yang biasanya rajin livetweet kali ini tidak bisa melakukannya. Saya berusaha mengingat-ingat apa saja statement yg keluar malam itu, dan berikut ini sedikit di antaranya :
“Semua orang yang menggunakan internet adalah netizen. Begitu ia connect to internet, berarti ia sudah menjadi warga pengguna internet. Sama seperti manusia begitu lahir di Indonesia, dengan memiliki akta kelahiran maka ia menjadi warga negara Indonesia.” Ndorokakung – Wakil Pemred Tempo

“Ada semacam love & hate relationship di social media. Di mana sebenarnya kita benci, tapi suka juga. Anxiety saya sebagai netizen adalah ketika kebebasan berbicara dibatasi.” Andjrot – Presenter TVOne
“Dengan semakin banyaknya followers, saya sangat berhati-hati mengeluarkan statement atau update status.” Andrew Darwis – Founder Kaskus (The largest Indonesian community)
“Netizen itu next revenue kontributor telco, mereka akan explode 1,2 thn lagi & mudah d monetize dgn content” warihnyaXL – General Manager Sales Blackberry & Internet XL

“Social media punya kontribusi besar terhadap berkurangnya konsentrasi kita terhadap sesuatu yang sedang kita kerjakan, kita jadi tidak fokus dan mudah distracted.” Radityadika – Penulis Marmut Merah Jambu & pemeran utama film Kambing Jantan
“Kebetulan saya tinggal di dua tempat, kota & daerah. Jadi saya bisa melihat bukan lagi dari cara pandang melainkan jarak pandang. Di sini, kita memang melihat kehidupan sebagai netizen ini sebagai sesuatu yang sudah biasa. Tapi di daerah, jangankan untuk online. Untuk makan sehari-hari saja kadang susah.” Aldo Sianturi – musician, owner Purapura Records, was Marketing at Universal Music Indonesia
“Social media terutama medium twitter ini sangat mempengaruhi saya terutama dalam kehidupan beragama. Karena banyak yang bertanya mengenai agama, saya jadi belajar terus dan terpacu untuk memperdalam ilmu agama saya.” Fahira Idris – Pemilik Nabila Parcel & Gift

“Adanya social media sangat membantu komunikasi antar pembeli dengan staff toko online saya. Namun kita juga harus hati-hati menangani konsumen di social media, ada standar operasional system yang harus dijalankan untuk menghindari masalah yang mungkin terjadi.” Ollie – Pemilik Kutukutubuku
“Social media bisa dipakai oleh produk/brand untuk brand awareness, tapi tidak untuk hardsell.” Kemal Arsjad – CEO BetterB
“Dengan adanya social media kita bisa mengkampanyekan sesuatu dengan cepat dan rendah biaya.” Z Hafizah – Putri Indonesia Lingkungan 2009, Duta Masyarakat Sehat Tanpa Rokok

Kalau menurut saya pribadi, seseorang bisa dikatakan netizen apabila kebutuhannya berinteraksi di sosial media sudah sama atau bahkan melebihi kebutuhannya mengisi perut (makan/minum). Social media terus berevolusi. Jika dulu yg paling ngetrend adalah chatting via MIRC, lalu blog, kemudian friendster, dilanjutkan facebook dan sekarang twitter. Sifat dan karakternya juga mengalami evolusi. Jika 10 tahun lalu blogosphere begitu kekeluargaan karena penggunanya pun masih bisa dihitung, sekarang sudah tak terhingga dan menjadi terkotak-kotak. Kini eranya twitter, di mana siapapun bisa mengatakan apapun kepada sesamama penggunanya, tanpa mengenal batas usia, jarak, waktu, apalagi status sosial. Efek buruknya, kita semakin sulit fokus karena selalu penasaran dengan apa yg sedang ramai dibicarakan orang di social media. Tapi efek buruk itu sangat mudah ditangani dan jauh lebih kecil dibanding efek baiknya. Saya baru 4 bulan ini kembali ke social media (setelah 4 tahun tenggelam dalam kehidupan rumah tangga), dan merasakan benar besar manfaatnya. Kapan2 akan saya tulis di postingan terpisah ya.
Selengkapnya, kita tunggu saja ulasan dari The Markeeters. Meanwhile, you can check on twitter: #Netizen




Kutipan2nya menarik, mbak :)